Mei takan pernah hilang dari tanggalan masehi. Saya pun ga tahu sejak kapan keberadaannya, karena sejak saya lahir dia sudah ada lebih dulu. Nampaknya dia jauh lebih tau tentang sejarah hidupku dibanding diriku yang mengerti tentang dirinya. membingungkan kan..!!!!!
Yang jelas Saya adalah salah satu orang yang beruntung masih bisa menemuinya lagi untuk yang keduapuluhtiga kali. Kuharap jangan bosan ya bray..!!
Waktu bak air dalam pipa yang mengalir tanpa keran, sekalipun nafas terhenti, mana mungkin dia akan peduli..!!!. sadis kan bray, Hidup memang lebih kejam dari Sinetron yang ada ibu tirinya...
Malam ini saya merasa terpaksa menulis diblog ini. Entah kenapa saya mau memaksakan untuk menulis. Ditengah badai kemalasan yang datang.
Kali ini saya tertarik menulis tentang kebencian yang sudah terlanjur tertanam dan tumbuh subur didalam diriku. Apa itu? enggg..inggg..ongggg...
Ada dua hal yang paling saya benci dimuka bumi ini. Yang pertama, orang yang mebuang sampah sembarangan. Yang kedua adalah keMALASank.
Kalau untuk yang pertama, itu harga mati, ga tau kenapa bisa muncul kebencian itu, tapi memang saya terlanjur ga suka sama mereka yang membuang sampah sembarangan (Konotasi sampah yang universal.red)
Yang kedua tentang MALAS. Ini yang akan kubahas ditulisan ini. Kali ini saya ingin melakukan pengakuan dosa. Saya adalah tipikal seoarang pemalas. Tapi sayangnnya saya belum paham patofisiologi malas itu apa?''. Tapi hebatnya saya sadar kalau kemalasan itu tidak baik untuk kesehatan dan justru terkadang kita betah bertahan hidup dengan kemalasan. Oleh karena itu saya mau berbagi tentang informasi penyakit yang satu ini.
Kenapa timbul malas?
Apakah kita yang mengundang atau memang setiap pribadi manusia sudah Tuhan bekali kemalasan dalam dirinya masing-masing?
Setelah saya coba analisis apa yang terjadi pada diriku sampai hari ini, muncul hipotesa awal tentang penyakit yang berkedok sahabat ini. Awalnya saya senang memanjakan diri karena memang sedari kecil saya sudah dimanja sama orang tua. Jadi apa saja keinginan harus dipenuhi. Hingga hal ini yang menulitkanku untuk beradaptasi dengan kemandirian. Baju selalu dicuciin, Nonton semau gue, Lebih banyak mainnya sama teman, Bahkan sering ga pergi ngaji cuman gara-gara jadwal ngaji bertepatan dengan jadwal main bola dilapangan belakangan rumah. Hebat ga thu..
Nah saya lihat berawal dari sini muncullah bibit-bibit Kemalasan itu. Saya justru rajin pada hal-hal yang sifatnya akan merugikan masa depanku kelak. dan semua itu telah saya perbuat sejak jaman belum sunat.Parah ga thu..
Makanya sampai sekarang saya belum menemukan formulasi yang tepat untuk membuat suatu obat yang dapat membasmi penyakit ini. Tapi alhamdulilah semenjak saya mulai kuliah dan pisah dari orang tua. Kemalasan ini sedikit demi sedikit mulai turun intensitasnya, karena memang kondisi yang memaksakan. Nah dari sini juga saya bisa sedikit mengambil pelajaran, jika kemalasan itu bisa muncul karena lingkungan.
Kadang lingkungan yang sesuai dosis akan mampu sedikit demi sedikit mengurangi rasa kemalasan itu.
Jadi titik poin untuk miminimalisir kemalasan kemalasan adalah yang pertama Jangan memanjakan hidup dan yang kedua Hiduplah dilingkungan yang sesuai dengan dosis kebutuhan kita masing-masing.
Semoga dengan tulisan ini bisa sangat bermanfaat buat saya pribadi yang sedang belajar membasmi sisa-sisa penyakit malas yang masih ada didalam diri, malas menghapal quran, malas tahajud, malas sholat, malas belajar, malas baca buku, dan malas memainkan hati wanita ckckkc
Tapi kalau boleh jujur, saya sebenarnya tipikal orang yang rajin. Rajin dalam hal tidur,bertapa (melamun) diatas gunung, dan betah didalam kamar sendirian.
Tulisan ini dibuat ditengah kesibukan memperhatikan setumpuk materi kuliah yang akan diujiankan besok pagi....
Harigato kosaimash...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar