Sabtu, 19 Desember 2015

KEMBALI MEMULAI

Ent(d)ah jika aku buku
Mungkin mata akan membersamai ku
Tapi aku adalah malu..
Malu yang sulit untuk keluar dari ringannya rindu..

Mungkin saya saja yang merasakannya...
Dan saat kamu adalah wajah itu,,
Saya tahu kalau pilihan hanyalah pembuka 'pintu' untuk menemui kebahagiaan itu..
Saya adalah Kata ‘Cinta’, Tapi Cinta tak berkata apa-apa....
Dan memang seperti itulah adanya
Melow dan dingin dipenantian awal musim hujan

Sakit adalah hilangnya kata dari lisan
Dan Lisan hanyalah tuan yang 'semau'nya saja bertandang..
Saya bisa saja memaksanya untuk tinggal sedikit lebih lama..
Namun apalah artinya, jika kebersamaan tak tercampur dengan rasa bersama..

Mungkin saya kembali membutuhkan 'lusuh'..
Lusuh yang dulu telah saya buang...
di sudut pagi selokan mataram,,
Kasihan dia, entah seperti apa pilunya dia saat ini,

Saya rindu akan lusuh, dan bumi sangat menyukainya.
Buktinya orang-orangan lusuh digemari bacaannya.
Saya bisa saja meramu rindu,
Dengan sedikit racikan coklat manis yang rahasia..
Menjadikannya endemik di setiap mata yang melihatnya...

Dan saya mau menarik melow itu kembali..
mungkin menangkapnya dengan waktu..
Saya pernah mengutuknya, sedih sekali rasanya..
memang ‘Penyesalan’seperti  itulah adanya..

Untuk melunasi Sesal dengan ‘Puisi’, mungkin Takkan ‘mungkin’.. 

RENUNGAN

Semoga Allah senantiasa membersamai kita ditiap-tiap langkah kaki yang entah akan kemana jasad ini kita bawa. Semoga waktu bisa menjadi pengingat, jika semua yang memilki permulaan pasti akan ada titik akhirnya. Sabar adalah bekal terbaik yang Allah titipkan di tiap-tiap mahluk yang Ia Cintai, Allah melengkapinya dengan Syukur sebagai mahkota dari kesabaran.

Jasad ini datang, tidak untuk menawarkan apalagi menjanjikan apa-apa, dan sejatinya seperti itulah adanya, mahluk tertumpu dan tergantung oleh Sang Maha Hidup. Olehnya merugilah orang-orang yang mengharap banyak dengan mahluk sesamanya, karena mahluk yang di jadikannnya tumpuan juga lemah di hadapan-Nya.

Saya memilih untuk  memberanikan diri saja. Kerugian terbesar manusia, saat tidak mampu untuk menaklukan rasa takut didalam diri mereka. Kesucian masih sangat jauh dari tabiat diri, dan 'baik' hanyalah jubah yang dikenakan dihadapan manusia saja. 

Terkadang lisan ini rapuh untuk membuat suatu pengakuan sebagai pengikut Rasulullah yang Agung. Tabiat  serta tindakan sangat jauh dari cerminan umat beliau. Ada sebuah keyakian jika beliau terus menyaksikan umatnya saat ini, namun dengan dimensi yang berbeda dengan manusia yang hidup sampai hari ini, beliau menangis melihat betapa umatnya saat ini jauh dari apa yang telah beliau cita-citakan. Sangatlah wajar, disaat-saat akhir hidupnya yang beliau sebut hanyalah  Ummati,ummati, ummati.




TERPERANGKAP



Engkau yang menjatuhkan daun di penghujung musim..
Engkau yang menarik angin dari timur..
Engkau yang menenggelamkan cahaya kepekatnya malam.. 
Engkau yang menafikan umur..
Engkau tahu ketidak tahuanku..

Tidak ada sesusatupun luput dari Ghaib Mu
Tidah ada sesuatupun terhindar dari Sadar Mu

Sungguh...
Saya terus mencoba mencari Mu di awal umur Ku
Dimana Orang seumurku kebanyakan sedang berlomba mengumpulkan rarmat Mu
Jika jalan ku salah,,
mohon janganlah Engkau marah padaku apalagi lari berpaling dari ku...

Yakinku
Sungguh  gemerlap dunia yang ada di sudut mataku...  
Tidaklah sebanding dengan dimensi dunia Mu..

Rabb..
Dimana seharusnya saya meletakkan Mu..
Di saat saya harus kalah dan jatuh hati terhadap Bidadari Ciptaan MU
Disaat saya memilih menuaikan Cinta pada Ciptaan Mu...
Maaf jika saja ia terperangkap dalam  dinding  tipis... 
Yang sulit terpisahkan antara Cinta dan Nafsu..


Gorontalo,,desember 2015


Senin, 14 Desember 2015

Shine is the Siensce


Cahaya adalah ilmu. Saat tidak ada cahaya, yang ada hanyalah hampa, sunyi dan gelap.
Namun cahaya memberi arti yang berbeda dari seatu kegelapan.

Cahaya yang mengungkap jika di balik gelap menyimpan begitu banyak tanya yang masih harus di ungkap, apa gerangan jawabnya.
Di dalam gelap, yang dapat dilakukan hanyalah terdiam membisu terus berspekulasi tentang apa yang ada dibalik kegelapan.

Saat ini kita butuh cahaya,
Cahaya yang telah lama hilang, redam dan padam oleh ulah kita sendiri,
Yang enggan untuk meluangkan sedikit energi, melebihkan sedikit usaha dan melebihkan sedikit perjuangan untuk membuka tabir kegelapan
Yang sebenarnya jika kita ingin unggap tabir pemisah tersebut, hanyalah  sebuah kain tipis yang dikenal dengan Ilmu.

Minggu, 13 Desember 2015

Hujan...



Tetesan mewujudkan akan hadirnya diri mu
Kadang kau begitu di nanti, namun...
Kadang pula tingkah dan ulahmu justru di caci

Kasihan..Kasihan
Hujan..

Aku tahu sebenarnya kamu hidup
Kamu mendengar, menyimak Setiap ocehan cetus kami
Tapi itulah dirimu Hujan
Mulutmu di kunci, tapi tangan dan kakimu leluasa berkomunikasi

Saya memilih untuk menikmati riak mu saja..
Itulah tabiat kebanyakan dari kami, hujan...
Terkadang untuk menilai lebih ringan di banding mengangkat secangkir kopi..
Menyadurkan tangan kanan dan bersahabat dengan mu, itu lebih baik..