Salam Kenal

Beberapa tahun silam,tepatnya 29 juni 1989 pada hari kamis malam, disebuah rumah kayu yang berukuran tak terlalu besar, didalam sebuah gang sempit kelurahan kampung mesjid, yang lokasinya berada  paling pojok sebelah kanan, disebuah perkampungan ditengah kota Samarinda seberang, terdengar suara tangisan bayi yang menandakan telah bertambahnya satu orang penduduk warga negara Indonesia.

Saat ini anak itu masih hidup. Dan itulah aku. Muhammad Taupik bukan Taufik. Ini mungkin terjadi, entah apakah  bapakku salah menulis nama atau memang sengaja agar tak ada samanya. Mau tidak mau tertulislah Muhammad Taupik diakte kelahiran yang digunakan untuk mengurus proses administrasi dikantor catatan sipil, agar terdaftar sebagai WNI resmi. Saya tak terlalu mempermasalhkan masalah itu, bahkan bersyukur karena bterlalu banyak yang namanya Taufik di republik ini, dan saya yakin seyakin yakinnya dan mudah-mudahan Allah mengaminkan, kalau yang namanya Taupik cuman satu dinegeri ini bahkan didunia ini. Alhamdulillah sampai sekarang masih diberikan kesempatan Hidup sama Allah menikmati sedikit umur yang tersisa untuk menyaksikan perubahan detak jam dinding yang tak tahu kapan berhenti.

Terlahir dari keluarga H.Wahe (Kakeku), keturunan bugis wajo yang memang terkenal dengan perantau. Termasuk orang tuaku salah satunya. Ketika mendengar cerita dari bapakku, awalnya mereka disini sejak jaman soeharto, berarti saat jaman soekarno beliau masih dikampung halamannya. Karena tuntutan hidup dan demi mencari kehidupan yang jauh lebih layak, alhasil keluarga kami memilih hijrah dan terpilihlah samarinda sebagai kota yang menjadi tujuan mereka saat itu.

Cerita hidupku diawali disebuah perkampungan pedalaman kalimantan Timur, yaitu Barong Tongkok yang sekarang sudah menjadi ibu kota Kab Kutai Barat yang dulunya merupakan bagian dari daerah Kab Kutai. Mengawalai sekolah di TK Rajawali dekat rumah, selajutnya SD Katolik Wr Soeoratman, juga dekat rumah. Setelah lulus dari SD kemudian memilih lanjut di SMP Negeri. Nah disini saya sudah mulai memilih untuk tak dekat rumah, ya sekitar 2 kilometerlah dari rumah, namanya  SMP N 1 Sendawar. Kemudian jenjang selanjutnya lebih jauh lagi 17 Km dari rumah, yaitu SMA N 1 Sendawar.

Allah memberikan izin untuk melanjutkan studi, kali ini lebih jauh lagi, diseberang pulau, tepatnya di Universitas Muslim Indonesia Makassar. Nah pilihannya farmasi. Jangan tanya kenapa saya memilih jurusan itu?. Karena sampai hari ini saya belum memiliki alasan yang tepat, baik dan benar, mengapa saya memilih jurusan ini. Namun saya adalah pengagum kimia. Terlepas dari faktor guru kimiaku yang memang cantik waktu jaman sma sehingga menjadi imunostimulator untuk melek mengikuti mata pelajarannya.

Allah kembali memberikan saya amanah untuk lanjut mastergraduade dengan jurusan yang sama, tapi kali ini sedikit lebih jauh lagi. Di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Untuk selanjutnya saya hanya bisa memfasilitasi cita-citaku melalui kata yang saya pun tak tahu dimana letak providernya tempatku mengirimnya. Hanya teus berproses dan belajar karena tersadar diri ini hanya dibekali instrumen untuk menjawab teka-teka hidup. Kembali meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, sesuai dengan amanah kita hidup dimuka bumi ini, khalifah fil ard, dan jalan menujunya ada banyak, kita berhak memilihnya.

Terlepas dari keanehan-kenehan yang saya alami selama perjalan hidup ini mulai dari hobi, kebiasaan, serta aktivitas yang saya rasa tak perlu saya curhatkan disini. Saya semakin tersadarkan betapa hebatnya Allah menyiapkan skenario hidup ciptaan-Nya.Cacing tanah saja yang hidupnya besembunyi dibalik batu, Allah sudah mempersiapkan umur, rejeki dan frekuensi hidupnya berdasarkan takdir Allah yang sudah jelas tertulis di lauhul mahfuds. Tak ada yang patut disombongkan dan tak ada yang patut dibanggakan dari jasad ini yang kelak hanya akan menjadi makanan cacing. Saya hanyalah bagian dari nol komanolnolnolnoltriliyunan persen dari alam semesta yang sangat luas  ini, yang saya pun masih terus membayangkan betapa Maha Besar Penciptanya.

yang mau silaturahmi silahkan :
twiter : @muh_taupik
email : muh.taupik89@gmail.com/muhammad _taupik89@yahoo.co.id

1 komentar: