Tak banyak cerita belakangan ini. Nasib masih sama. Menjadi mahasiswa itu nyesek. Mungkin ini yang dinamakan titik jenuh. Dimana tidak mampu lagi manampung daya osmosis yang tersuplai dari luar.
Sejak September dua ribu tujuh sampai saat ini. Status mahasiswa masih bertengger di pundak. Hari tetap sama, senin kembali lagi kesenin, tanggalan dikalender pun tak banyak berubah, bulan februari tak akan pernah sanggup untuk mencapai hari ke tigapuluh.
Sudah hampir enam tahun melewati masa-masa 'kuli'ah. Ini adalah titik dimana kapabilitas di pertaruhkan. Terkadang gelar akademik membuat kita sedikit mampu menyombongkan diri ditengah masyarakat, namun yang menyakitkan, saat gelar itu menjadi bumerang buat hidup.
Saya masih terus berjalan, terkadang duduk untuk istirahat, menikmati terik yang memuaiakan angan-angan dan mengingatkan realitas. Menikmati malam, yang selalu mengabarkan tentang adanya kematian. Mati itu pasti. Tapi memilih jalan kematian itu yang berbeda.
Saya tak tahu, akan dikenang sebagai apa nantinya ketika saya mati. Yang Nikmat adalah ketika kita lahir disambut tawa, dan mati menyisahkan tangis. Yang membuat Nyesek itu sebaliknya, jika kebanyakan orang justru bersyukur kita telah tiada.
Ya..kita tinggal memilh prototipe apa yang kita inginkan nanti ketika kita mati. Belakangan saya sangat senang dengan gelap. Saat gelap saya serasa dekat. Entah dekat dengan siapa?. Tapi keyakinan ku, mengiyakan tentang adanya Zat yang sangat dekat.
Terkadang gelap mengandung kebisuan. Gelap itu tak punya mata, hingga kita merasakan hanya ada kita sendri yang berpijak. Tenang,Damai, Tentram, semua itu disuguhkan oleh gelap. Saat-saat seperti itu yang mahal dari sebuah kehidupan , tapi entahlah, apakah kebanyakan dari mereka juga menyukai gelap?
Berbicara tentang masa depan. Semua terasa abu-abu. Menghabiskan hari ini saja, saya bersyukur. Banyak yang saya inginkan dimuka bumi ini. Tapi apakah semua keinginan, itu compatibel dengan desain hidup kita. Kita dikasihkan dimensi berimajinasi, dan instrumen fisik untuk mengaktualisasi, tapi masalah pencapaian, nilai, serta prestisiusnya itu tak bisa diukur dengan angka statistik sekalipun. Ini masalh kualitas, bukan kuantitas.
Yang paling menyenangkan saat melihat seorang tersenyum terhadap kita, kehadiran kita dinanti, dan kepergian kita dirindu. Ini bukan tentang, 'mau jadi apa kita esok hari?, tapi tentang mau sepertia apa kondisi kita dikenang stelah kita mati?....
28 Maret 2013, Yogyakarta, dikos lantai tiga
Rabu, 27 Maret 2013
Eksotisme Rinjani Negeri Para Dewi...
Setelah cek kembali perlengkapan serta peralatan untuk persiapan nyummit. Tanggal sebelas ferbuari saya berangkat dari stasiun lempuyangan menuju stasiun gubeng surabaya. Disurabaya kami janjian bertemu untuk mematangkan konsep perjalanan serta mengevaluasi peralatan serta akomodasi yang akan dibawa.
Perjalan rinjani dimulai keesokan hariya, kami menuju terminal surabaya, memilih bis yang langsung sampai kemataram, Lombok. Rencana awal di ROP Pendakian kita mau estafet aja, mulai dari surabaya naik kereta menuju banyuwangi, nyebrang bali, dan naik feri menuju lombok. Tapi karena kehabisan tiket, mau ga mau alternatifnya nai bis. Alhamdullialh dapat yang lumayan murah setelah terjadi penawaran yang sedikit alot dan panjang.
| Puncak Rinjani Dari kejauhan tertutup Kabut |
Kesokan harinya kami tiba di pelabuhan mataram, dijemput teman dari UNRAM (Universitas mataramam) Akh pendi. Karena tiba disana sudah hampir, kami sepakat untuk bermalam satu malam di sekertariat mesjid kampus Unram sambil memulihkan stamina selama perjalan yang cukup melelahkan.
| Puncak Rinjani Dikejauhan |
Setelah sholat Subuh kami berangkat menuju pasar hiberaitaise dengan minibus. Tiba disana kami harus mencari angkot sayur yang akan menuju sembalun. karena tidak ada angkot yang menuju kesana. Jadi alternatifnya kita nebeng mobil L-300 yang kan menuju sembalaun. Kami berangkat bersama ibu-ibu dan warga yang telah menjual hasil kebunnya di ibu kota kecamatan tersebut.
| Bersama Ibu-Ibu dimobil pengangkut Sayur |
Tiba disembalun, kami diantar disalah satu jalur tikus disudut perkampungan oleh bapak supir mobil yang kami ikuti. Informasi dari beliau 'Jalur ini jalur alternatif dan jarak tempuhnya tak terlalu jauh. Jalur ini memang jarang dialuli pendaki. Jalur pendakian regular masih ditutup hingga april dan sejak beberapa hari lalu, informasi dari warga tak ada satupun pandaki yang muncak.
Akhirnya kami berangkat pagi pukul sembilan, disini kami melewati padang safana (Padang Rumput alang-alang) yang terhampar luas, Ditemani teriknya matahari, nampak dikejauhan sekelompok burung memanfaatkanya untuk mencari mangsa. Tebing-tebing dan bukit-bukit menjulang yang ditumbuhi ilalang menjadi pemandangan yang mampu menghalau lelah.
Jumlah pos yang harus dilewati tak terlalu banyak, hanya saja jarak antar pos yang lumayan berjauhan. Tiba dipos dua kami singgah istirahat dan mengisi kekosongan perut. Treking dimulai saat tiba dipos tiga, sampai pelewangan. Kondisi treking yang lumayan licin dan melewati hutan cemara yang tidak terlalu lembat, mebuat kami sedikit kewalahan.
Jumlah pos yang harus dilewati tak terlalu banyak, hanya saja jarak antar pos yang lumayan berjauhan. Tiba dipos dua kami singgah istirahat dan mengisi kekosongan perut. Treking dimulai saat tiba dipos tiga, sampai pelewangan. Kondisi treking yang lumayan licin dan melewati hutan cemara yang tidak terlalu lembat, mebuat kami sedikit kewalahan.
| Istirahat dijalur pos tiga menuju Pelewangan |
Alhamdulillah tiba di pelewangan malam pukul tujuh. Seperti yang kami duga tak ada seorang pun diatas. Kami hanya berdua.Kondisi sangat sepi, ditemani melodi angin yang memang cukup ribut. Segera kami mencari tempat untuk membangun tenda, yang tak terlalu jauh dengan sumber air.
Malam itu cerah, Langit dan Bintang bermetamofosis menjadi hiburan ditengah kesunyian, nampak ujung pulau dikejauhan yang membatasi laut dan dari lampu-lampu rumah penduduk. Ini lah yang dibayar mahal. Begitu berharganya sebuah perjuangan, dan semua terbayar malam ini.
Semua terasa dekat. Ada kepuasan batin saat kita berada dipuncak tertinggi.
Kamu akan merasa sanagat kecil dan hanya ada takjub, tanpa ada embel basa-basi...
Malam itu cerah, Langit dan Bintang bermetamofosis menjadi hiburan ditengah kesunyian, nampak ujung pulau dikejauhan yang membatasi laut dan dari lampu-lampu rumah penduduk. Ini lah yang dibayar mahal. Begitu berharganya sebuah perjuangan, dan semua terbayar malam ini.
Semua terasa dekat. Ada kepuasan batin saat kita berada dipuncak tertinggi.
Kamu akan merasa sanagat kecil dan hanya ada takjub, tanpa ada embel basa-basi...
| Plewangan Dan Danau Bongkahan Rinjani |
Negeri ini kaya, Hanya saja, pemimpinnya yang Rakus, Indonesia memang layak dibayar darah oleh Kakek-kakek pahlawan kita terdahulu. Andai semua orang bisa melihat ini. Mungkin mereka akan sependapat dengan ku. Terkadang puncak keindahan tak kan mampu di wakilkan kata-kata..
Kesokan paginya.Ternyata kami tak sendiri. Penghuni Rinjani pun datang bertandang mengelilingi tenda untuk meminta makan. Hati-hati bila ke rinjani, Ternyata banyak monyet yang sedikit galak jika tak dikasih makan....
| Tugu Plewanagan |
| Quitness |
Setetes Surga Di Semeru
Tepat tanggal dua puluh dua desember Duaribuduabelas berangat dari terminal giwangan yogya menuju malang. perjalanan ditemani mendung petang itu. Berangkat sekitar pukul sembilan malam. Selama perjalan terpaksa duduk disebelah pak supir dengan kursi plastik yang cukup membuat pantat menjadi tepos, mau tak mau, dengan kondisi bis yang full dan ini adalah bus terakhir menuju malang.
Tiba dimalang pukul enam pagi. Setelah itu mencari angkot yang menuju tumpang. Perjalanan sekitar tiga puluh menit dari terminal malang. Tiba ditumpang, disini saya bertemu 4 orang pendaki yang sama-sama mau menuju semeru. Kebetulan ini adalah pengalaman mereka ke kesemeru, sama dengan saya.
| Tumpang |
Keempat orang ini, alif dan denni dari ITS Surabaya dan Egi dan Ari dari UII Yogya. Setelah menunggu cukup lama, sampai jep full hingga, kami berangkat menuju Ranu pane.
| Otw Ranu Pane |
Selama perjalanan sudah nampak keindahan disekitar, hamparan safana dan Bukit yang setia manjaga Gunung-gunung yang menjulang. Waktu itu, tak nampak Mahameru, mungkin karena tertutup oleh kabut.
| Perjalan Ranu Pane, Hamparan Safana |
Tiba dirau pane, kami melapor kebascamp untuk persiapan keberangkatan. Tepat pukul sepuluh siang kami meninggalkan ranu pane menuju Ranu kombolo. Selama perjalan, kebanyakan yang dilalu hutan tropis, dan sedikit traking. Jalur lumayan bagus dan tidak terlalu sulit karena memang sudah disiapkan rambu-rambunya. Hampir dtiap kami berhenti, dan tiba sekitar jam tujuh malam diranu kumbolo.
| Pos Ranupane |
Ranu kumbolo eksotis. Kami disambut senyuman cerah langit malam, dan bintang yang sangat dekat malam itu. kami menginap menginap semalam diranukumbolo.
| Ranukumbolo Menyambut mentari |
| Tim di Ranukumbolo |
Esok paginya, lumyan berkabut. hingga tak nampak sunrisenya diantara kedua laya bukit yang berada tepat dihadapan tenda yang menghadap danau. Sekali saya terkagum dengan ukiran Tuhan ditempat ini.
Pukul sebelas kami meninggalkan ranukumbolo, menuju kalimati, perjalan hampir empat jam, selama perjalanan, safana atau hamparan rumput menghijau terhampar luas, cantik, sekalipun panas, semua terobati, karena suguhan indah pepohonan pinus dan hamparan safana. Perjalan selama empat jam, kami tiba sore dikali mati.
| Safana menuju Kalimati |
Kami sepakat bangun tenda dikali mati, karena sumber air yang agak dekat dibanding harus ngekamp diarcopodo, tapi ada pula beberapa pendaki yang memilih menuju arcopodo untuk mendirikan camp, dengan pertimbangan lebih dekat menuju puncak mahameru.
| Cooker |
| Ditenda kedinginan |
Tiba saat menuju puncak. kami berangkat pukul sebelas malam, kondisi cuaca dingin, bahkan pakaian sampai berlapis, semua peralatan ditinggal ditenda, kecuali minuman dan makanan snakc didalam daypack untuk bekal selama perjalan. Kebetulan yang muncak pada saat itu rame, jadi kami tidak terlalu terburu-buru, selama perjalan dari kalimati menuju arcopodo, trackingnya mantep, cukup melelahkan, setalah itu kita melewati batas akhir antanra tumbuhan dengan pasir bebutaan. Selama meuju puncak, kaki melangkah sangat sulit, karena kondisi trek yang berpasir dan banyak bebatuan yang rentan untuk menggelinding kebawah.
| Keren Sunrise Mendekati Puncak |
Setelah melewati trek yang sangat sulit, alhamduillah kami melihat sunrise saat mendekati puncak dan tiba dipuncak sekitar pukul tujuh pagi. Indahh,,semua terbayar,saat kita sampai dipuncak Mahameru...
Indonesia Ku indah..Indonesia ku Kaya Indonesia Ku Cinta..Dan Saya adalah Pemberani menaklukan takut yang ternyata hanya menjadi tameng keidahan
Thangks God...
| Ritual... |
| Mom... |
| Puncak Mahameru |
| Puncak 3676 Mdlp |
| Negeri Di atas Awan |
| The Winner |
| Strangger... |
Dua Puluh empat Desember DuaRibuDuaBelas...Puncak Mahameru, Jawa Timur, Indonesia...
'Awal Pintu...
'Awal Pintu...
Senin, 25 Maret 2013
Hubungan antara Menulis dengan Persamaan Reaksi Senyawa GHALAW dan Turunannya...
Kenapa jadi ketagihan nulis begini??. jadi bingung mau nulis tentang apa?
Pesan yang paling tersirat selama ini dari dosen Biokimia saat S1 adalah pentingnya ideologis. Bagaimana seorang manusia harus bisa menjadi Pribadi yang mampu berdiri diatas kaki sendiri. Kadang memang hidup menawarkan kekecewaan, apalagi saat kita mendapat penilain yang sedikit membuat ubun-ubun terasa nyut-nyut.
Hidup ini berproses, Seperti Ulat yang bersusah payah bermetamorfosis menjadi Kupu-kupu untuk merubah nasibnya yang awalnya terkesan tak ada menfaatnya. Kita pun seperti itu, dari yang sebelumnya hanya bisa merangkak sekarang sudah bisa berdiri sendiri. Dan itupun kita lakukan sendiri, dengan modal ikhtiar dan insting yang kita telah dibelakali oleh Allah. Dari yang sebelumnya tidak tahu, berupaya untuk mencari tahu. Penyambung antara keinginan untuk tahun menjadi tahu adalah azam atau tekad yang memang membutuhkan proses.
Dan sayapun belajar untuk memanfaatkan pesan bijak ini. Blog ini adalah fasilitas yang membuat kita sadar pentingnya suatu proses. Dari blog ini, saya dapat mengevaluasi diri, ternyata saya memang benar-benar bodoh, tanpa dinilai oleh orang laipun saya sudah menyadarinya lebih dulu. Nah alhamdulillah, untungnya saya sadar akan kebodohanku, oleh karena itu saya belajar.
Saya jujur, tak tahu menulis, apalagi Ilmu serta kaidah-kaidah penulisan yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, itu oun saya ga ngerti. Akan tetapi, saya punya modal.Salah satu dari sekian banyaknya cita-citaku, adalah menjadi seorang penulis. Amin..Ya Allah..!!
Ternyata realiatas dilapangan berbeda seratusdelapanpuluh lebih sedikit derajat. Menulis merupakan wadah terbaik untuk kita belajar dan ternyata menulis tak butuh teori, apalagi hukum-hukum. Cukup ada pulpen sama buku atau leptop setelah itu gerakan jari-jarimu.
Setelah itu, karena kita ga akan tau apa yang mau ditulis kalau tak ada bahan untuk ditulis. Oleh sebab itu kalau mau menulis harus banyak membaca. Nah secara tidak langsung. ketika kita mau menulis, kita terlebih dulu harus membaca agar dapat sumber inspirasi tulisan. Sekarang dari modal belajar menulis kita dapat dua bonus. Yaitu bisa belajar menulis dan bisa banyak membaca, entah dari buku, kuliah, ataupun dari blog, bakan dari tukang sayur.
Kalau masalah output tulisan, ga usah kuatir, cukuplah Allah dan kita sebagai penilainya. Jangan takut untuk tidak dibaca, tapi takutlah kalau tidak ada bukti nyata untuk mencapai cita-cita.
Makanya ada atau tidak ada penilaian dari orang,Ya kita harus tetap istiqomah. Sekarng tinggal kembali kediri kita sendiri, bagaimana memanfaatkan momen penilaian dari para fans-fansnya kita, yang sibuk menilai aktiitas kita.
Makanya ada atau tidak ada penilaian dari orang,Ya kita harus tetap istiqomah. Sekarng tinggal kembali kediri kita sendiri, bagaimana memanfaatkan momen penilaian dari para fans-fansnya kita, yang sibuk menilai aktiitas kita.
Nih katanya ustad aa'gym nih ya...'Penialian orang terhadap kita itu sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja,Allah maha baik, DIA sangat sayang sama kita hingga masih tetap menutup rapat-rapat banyaknya aib-aib yang telah kita buat. Oleh karena itu kita harus bersyukur dan mencoba untuk terus memperbaiki diri trutama ilmu Tauhid
Kok jadi ceramh gini...!!!!
Ok..Kita bahas sedikit tentang pemuda. Kadang geli juga melihat status teman-teman yang lagi Ghalaw (baca:GalauRed) menghadapi kerasnya batu asmara, apalgi jika dituliskan dididunia jejaring sosial. Tapi mau diapa? hidup memang keras kawan? ga pandang botak,gondrong,coll,jaim,latah,blak-blakkan, siapa aja yang meras pria, mau tak mau pasti akan melewati masa-masa aurum (Timing Gold) seperti ini.
Apa itu timing Gold?'. Timing gold adalah masa dimana tingkat kejenuhan atau biasa unsaturated kalau dibidang kimia berada pada tiik maksimal, alahasil pada saat kondisi seperti ini, kita cendrung mencari tempat untuk melampiaskannya.
Bedanya pemuda jaman dulu sama jaman sekarang, kalau jaman dulu masih banyak tempat -tempat pelarian jika galau, salah satunya layar tancap. Tapi karena sudah tergerus oleh kejamnya dunia, mau tak mau layarnya sudah tidak mampu lagi tertancap sampai sekarang. Nah kalau pemuda jaman sekarang, sebenarnya lebih banyak lagi pelariannya, tapi saya juga bingung, kenapa jejaring sosial selalu menjadi tempat malampiaskan berbagai macam permasalahanya, yang sebenarnya jika kita tarik kebelakang. Kita tak akan menemukan letak garis integrasi antara munculnya galau dengan Jejaring sosial.
Ya..tapi itualah manusia, tak bisa disalahkan, apalagi menyalahkan..!!!
Saya rasa, dijaman serba cyber seperti sekarang, memang kita dituntut untuk bisa belajar untuk berkompetisi, agar kita tak kalah dengan tehnologi alias gaptek. Ada kecendrungan pemuda saat ini, mencoba untuk mengeksplor dirinya dengan berbagai cara. salah satunya dengan memanfaatkan tehnologi yang ada saat ini. Maka dari itu kita tidak bisa menyalahkan rakyat dunia maya yang saat ini sudah sejahtera dengan kehidupan mereka,mulai dari status galau,motivasi, gombalisasi atau sekedar berbasi-basi, hingga ada pula yang memaki...
Ti me to sleppp...Diatas atap Kos Lantai Tiga Yogyakarta.
21.35 WIB. 25 Maret 2013. ...
'Menuntut Ilmu??!! Emang ada Manfaatnya..?!!
Pernah ada perkataan seorang ahli Tasawuf seperti ini,'hakekat belajar adalah mendengarkan, setelah itu mencerna apa yang didengarkan. Rahasia dibalik lahirnya cendekiawan besar adalah mereka selalu memposisikan diri menjadi seorang pendengar yang baik. Setelah mereka mampu untuk belajar khusu' mendengar, lalu mereka akan mencoba mendeterminasikan dan memahami hakekat ilmu itu sendiri.
Ilmu itu bak air, ketika tenang dia akan menjadi lahan tepat tumbuhnya mikroorganisme penyakit. Beda halnya air yang terus mengalir, tak pernah berhenti mengalirkan airnya ketempat-tempat yang membutuhkannya.
"Jika kita dapat menarik benang merah dari rajutan betapa runyamnya ilmu itu sendiri, maka kita akan menemukan lima Saripati dari segala aspek ilmu pengetahuan'
Pertama, selagi masih ada peluang untuk bersikap jujur, aku tidak akan berbohong.
Kedua, selama masih ada makanan halal, aku tidak akan memakan makanan haram.
Ketiga, jika masih ada cela (kekurangan) dalam diriku, aku tidak akan mencari-cari atau mempersalahkan keburukan orang lain.
Keempat, selagi rezeki Allah Swt. masih ada di bumi, aku tidak akan memintanya kepada orang lain. Kelima, sebelum menginjakkan kaki di surga, aku tidak akan melupakan tipu daya setan.
‘Oleh sebab itu, siapa pun yang memahami serta mengamalkan kelima saripati ilmu ini, pasti dia akan mencapai tujuan dan esensi ilmu yang selama ini kita susah payah untuk mencarinya dan membutuhkan waktu yang sangat lama."
Saat kita sudah berniat mewakafkan diri ini untuk menjadi seorang penuntut ilmu, setidaknya kita sudah paham tentang faedah berilmu itu sendiri. Namun realitas yang ada saat ini. Justru mereka yang kelihatannya memilki ilmu, memanfaatkan ilmunya untuk membodohi mereka yang nampak tak paham tentang ilmu. Hingga terkadang timbul pemikiran yang mencoreng esensi dari kesucian ilmu sendiri. Sebenarnya telah terjadi disorientasi pemahaman seorang yang meluangkan waktunya untuk belajar. Sebagai salah satu contoh. Tak sedikit saat ditanyakan alasan seorang pelajar untuk melanjutkan pendidikan perguruna tinggi,'agar mudahnya mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan pendapatan. Al hasil saat ini banyak pelajar-pelajar yang memperebutkan kursi dijurusan-jurusan yang memang sudah menjamin masa depan mereka kedepan, sebgai salah satu contoh, Jurusan kesehatan. Lantas timbul pertanyaan apakah ilmu-ilmu yang lain tak terlalu bermanfaat untuk kedepannya.
"Banyak atau sedikitnya ilmu yang dimiliki seseorang, tidak tergantung dari status sosial dan derajatnya di mata manusia"
Walahualam bisawwab...
25 Maret 2013 Referensi : Cerita Seorang penggembala yang kaya ilmu
Minggu, 24 Maret 2013
Bang Fahmi..!!!!
Akh..Akh...!!! Bangun Akh..Sudah Subuh.!!...
Suara diiringi ketokan pintu..!! Ayo Akh bangun sudah azan..!! Dengan modal energi sisa yang kumiliki untuk memulihkan kesadaran, mencoba menjawab panggilan dari balik pintu, 'Iya bang..Sudah bangun. Diluar sayup-sayup terdengar lantunan azan subuh bersahutan, Ku tatap jam sudah jam empat subuh.!!. Suara yang sudah familiar ditelinga. Hampir setiap subuh suara nan merdu itu, selalu menjadi alarm hidup untuk mungingatkan panggilan Suci disubuh hari.
Kos kami tepat berada dibelakang fakultas pascasarjana UGM. Mata masih sangat sulit untuk dibuka, seperti lem yang masih terus merekat. Kata Ustad Ini semua adalah hasil perbuatan setan, yang sengaja, agar kita tetap pulas tidur. Ada tiga hal yang menjadi penanggkal untuk melepaskan ikatan lawan berat kemalasan saat subuh, yang pertama segera minum air putih, kedua, segera gosok gigi dan terakhir segera berwudhu, berdasar riwayat muhammad taupik.
Sejak saya diyogya, Suara ini yang akan menjadi salah satu bagian cerita dalam sejarah hidupku kelak. Beliau yang bernama lengkap Khairil Fahmi, yang sebagian dari kami yang tinggal bersama dikos mengangkat beliau sebagai orang yang dituakan, alhasil kami memberikan nama kehormatan dengan sebutan bang Fahmi, selaian bang fahmi juga merupakan kakak tingkat, beliau juga nampak jauh lebih dewasa dianatara kami yang berkumpul dalam satu atap rumah kos ini.
Perawakan beliau yang supel, ramah, murah senyum, membuat banyak yang akrab dan senang untuk berlama-lama berbagi cerita dengan bang fahmi. Tak heran jika hampir tiap pekan selalu ada teman-teman sejawt beliau selalu datang berkunjung dikosnya.
Yang menarik dari bang fahmi adalah keistikomahannya dalam hal ibadah. Jujur saya merasa iri dengan beliau. Perwakan yang tenang serta terbuka dengan orang lain menambah khasanah keistimewaan dalam diri beliau. Bang fahmi yang saat ini mengambil Program pascasarjana di fakulatas kedokteran, berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.Dulunya bang Fahmi starata satunya dimabil juga dilombok tepatnya diuniversitas Mataram angkatan dua ribienam Fakultas Biologi.
Hebatnya selama saya kenal dengan bang fahmi, tak pernah sekalipun melihatnya alpa untuk berangkat kemesjid, entah itu subuh, siang ataupun malam, bahkan hujan deras sekalipun. Serta kebiasaan beliau yang selalu mengingatkan kami dan mengetuk pintu kamar kami setiap mau berangkat kemesjid ini yang kelak selalu kami rindukan. Belaiu selalu berangkat lebih awal kemesjd.
Pernah suatu waktu saya keasikan online dilantai tiga padahal mesjid sudah bernyanyi mengingatkan telah masuk waktu magrib. Kemudian bang Fahmi muncul, entah lewat dari mana, kemudian lembut menyapa ayok..!!! akh berangkat, sebentar dilanjutkan 'Tau tidak antum' Hanya orang-orang yang sombong yang tidak solat, apa lagi menunda-nunda solat dengan mimik wajah senyum dan tak ada keraguan sedikitpun diwajahnya. Mendengar ini, lekas jemari ini segera mematikan leptop sambil tersenyum yang sebenarnya dalam hati merasa bersalah.
Banyak hal yang membuat kami betah berlama-lama ngobrol dengan bang fahmi.Satu lagi tabiat beliau yang patut dicontoh adalah, tiap bertemu pasti lebih dulu menyapa, dimanapun itu. Beliau tak pernah sungkan untuk menyapa dan bertanya untuk sekedar basa basi yang sebenarnya membuat kami sungkan. Yang menurut say sedikit aneh, Justru bang fahmi yang lebih senior namun tak pernah merasa tinggi dan malu untuk menyapa lebih dulu.
Tabiat beliau ini yang membuat kami terkadang selalu meminta nasehat kepada beliau ketika futur sedang melanda keimanan. Dalam hati, betapa berunutung mrngrenal bang fahmi. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah hidupnya.
Terkadang saya merenung, betapa indahnya saat kita sudah melaksanakan ibadah bukan atas dasar kewajiban namun atas dasar kebutuhan dan kecintaan kita terhadap Allah. Terlihat jelas dari perilaku orang yang sudah merasakan nikmatnya seperti ini. Dan itu tercermin dari tingkah laku keseharian bang Fahmi, yang tenang, sederhana, dan selalu menyejukan saat melihat wajahnya.
Ada banyak hal yang bisa diambil saripatinya untuk dijadikan pelajaran hidup buat diri, agar bisa belajar dan memaknai hidup lebih bijak dan lebih baik lagi...
Rabu, 20 Maret 2013
Koruptor, Pemulung dan Uang Receh
Sore ini, jogja bersahabat. Ada lambaian tangan dikejauhan, seperti harap yang ingin didekati oleh kedua bola mata yang tak mampu menginterpretasikannya.
Tadi pagi sebelum kekampus,Tivi Pak kos sudah sibuk mengoceh, media dinegri ini sangat semangat menelajangkan politikus yang dianggap sebagai tersangka penjilat keringat rakyat. Sambil menyeruput kopi pahit kapal api, telinga ini pun tak ingin kalah mengambil perannya ikut menyimak ocehan ibu-ibu nuda yang ada didalama tivi itu.Samar terdengar pemberitaan tentang kasus petinggi-petinggi partai yang terjerat kasus korupsi. Lalu juga ada seorang mantan kepala kepolisian negeri ini yang memilki aset diluar kewajaran. Dalam hati berguman' pagi-pagi sudah disuguhkan dengan informasi yang membuat naik darah, bagaimana mau menatap indonesia lebih baik, sementara energi negatif trus menjadi sarapan pagi, dilalin sisi para orang pintar negeri ini pun sibuk mengeyangkan kantong-kantong bolongnya. Jujur, telinga mungkin sudah resisten dengan berita yang seperti ini, karena sudah hampir tiap waktu suguhan berita hanya membahsa seputaran topik itu saja. Bahkan seolah korupsi sudah menjadi suatu tabiat yang dianggap biasa di negeri ini. Selanjutnya kakipun melangkah menuju kampus.
Sepulang dari kampus, saat keluar dipintu gerbang, ada seorang ibu-ibu dengan postur gemuk sambil duduk diatas trotoar, nampak sehat fisiknya memanggil-manggil sambil menyodorkan wadah plastik, yang kuperkirakan adalah kemasan mie instan popmie. Uang dikantong tinggal seribu itupun receh limaratusan dua biji. Nampak tangan ingin mengambilnya dikantong celanaku bagian sebelah kanan. Tapi tiba-tiba ada bisikan halus disebelah kiriku yang melarangnya dan berkata seperti ini, 'Perhatikan dia, tubuhnya gemuk, sehat, bahkan senyum-senyum, tak ada mimik wajah yang menandakan hidup susah, kau hanya akan membuang-buang uang recehmu untuk dibagikan kepemalas seperti mereka'. Lalu tangan kananpun urung menyentuh uang logam tadi, sambil menunggu malaikat baik hati dari sebelah kanan urung berkomentar. Al hasil niat yang ingin bersedekah tidak jadi, karena wejangan bisikan sebelah kiriku.
Saya pun berlalu dihadapan ibu tadi, sambil permisi dan hanya menyumbangkan senyum kepanya. Ada rasa bersalah, dan sedikit kasihan melihatnya, tapi mau diapakan lagi. Sambil berlalu didalam hati, turut mendoakan beliau agar rejekinya dimudahkan, dan mendapat hidayah, untuk mencari rejeki melalui jalan lain yang jauh lebih baik.
Setiba dirumah perut sudah mulai memberikan sinyal untuk segera di berikan haknya untuk diisi. Setelah sedari malam sampai siang ini belum sempat menjamunya. 'Sambil mengais recehan yang ada didalam botol aqua besar, yang sengaja saya koleksi sejak pertama datang kekota ini. Sudah hampir setenga botol terisi uang receh, mulai dari seratus,duaratus,limaratus dan recehan seribu. Pada saat kondisi seperti ini, celengan receh ini sangat membantu. Ditengah kondisi mesin ATM yang enggan memberikan muntahan rupiahnya, karena saldoku tak lagi cukup untuk menggodanya. Setelah di korek-korek dengan jari telunjuk Alhamdulillah terkumpul recehan genap lima ribu rupiah, cukup untuk dibelikan nasi telur. Sudah sebulan, dana beasiswa tak kunjung cair, dengar-dengar dari bapak yang mengurus bagian beasiswa, ada penundaan dari pusat karena sedang ada pemeriksaan untuk memperbaiki data keuangan kementrian pendidikan, serta menelusuri aliran dana yang keluar dikementrian, apakah benar sesuai dengan target dan sampai sesuai dengan pengelolannya. Banyak yang beliau ceritakan, tapi saya hanya manggut-manggut, seolah-olah mengerti, sebenarnya niatnya datang ingin komplain, tapi karena mimik beliau yang begitu kemayu dan sangat sopan, hingga mengurungkan niat.
Setelah cukup lima ribu perak, sepeda melaju ke rumah makan padang didekat selokan mataram.
Setelah makan dan membayar dengan uang recehan tadi. Lalu kembali kekos. Tiba dikos' lalu merebahkan badan. sambil menerawang keatap-atap langit kamar sambil membayangkan kajadian tadi yang saya alami. Mulai dari para koruptor yang sedang santer diberitakan media. Cerita tentang ibu-ibu sehat yang sedang mengemis dan keuangan yang kering dipertengahan bulan. Seperti ada suatu garis integrasi, yang mempertemukan ketiga titik ini. ketiga varibel ini : meminta, kekeringan dan kerakusan, membent suatu titik temu yang saya beri nama sudut Lelap..saatnya istirahat sejenak......
20 Maret....
20 Maret....
Senin, 11 Maret 2013
Perang dan Koyo...
Hadiah bulan maret adalah kemenangan..
Akhirnya kemenangan diraih oleh pasukan virus influensa yang berhasil memukul mundur tentara batalyon imun didalam tubuh terutama regional tenggorokan dan sekitarnya. Mucus pun bertebaran dimana-dimana seakan ingin menumpahkan kekecewaannya akibat kekalahan telak pasukannya. Akibat penjarahan yang dilakukan oleh keturunan Orthomyxoviridae ini mau tak mau tisue dan baju dalam jadi sasaran luapan emosi. Semakin buruknya keadaan, membuat saya harus memutar otak, alhasil saya memilih untuk memperkuat basis pertahan agar tak memperparah keadaan. Saya meminta Yonif Temulawak mengirimkan curcumin dan zat aromatisnya yang disuplai dari Unit Gabungan Susu jahe koordinat angkringan samping mesjid untuk membantu pertahanan dan membangun kamp-kamp desekitar perbatasan kerongkongan.
Kondisi seperti ini, biasanya akan meningkatkan sindrom kemalasitoid. Ditandai dengan malasnya mandi karena tingginya tingkat sensitifitas kulit dan bulu idung, Intensitas tidur meningkat, Badan meriang, keringat bercucuran kalau tengah malam akibat minyak gosok dan selimut tebal.
Saat-saat seperti ini, ekspektasi yang paling bagus hanyalah Bidadari..hah..kenapa bidadari??
Ya..Bidadari..!!!..karena setiap manusia itu punya keterbatasan mental, disaat mereka sedang menghadapi masa-masa sulit. terutama yang berumur dua puluh sampai dua puluh lima tahun, lajang dan agak sedikit labil plus jauh dari orang tua..!!Nah ini kunamakan fase dangger holistik value..
Nah..biasanya mereka yang berada pada posisi tersebut, akan mencari suaka pengamanan diri atau yang disebut dengan sandaran untuk meluruskan kembali tiang-tiang sendi dan tulangnya.
Dimana hubungan korelasi antara bidari dengan fase dangger holistik value. Disini kita tak membutuhkan persamaan garis integrasi linear, actual ataupun control apalagi persamaan garis x kali y samadengan nol. Nah ini hanyalah hubungan sederhana yang saya namakan causalitas de mendro puyengenoid (Nah loe pusing kan.Red). Causalitas de mendro puyengenoid ini sebenarnya sangat sensitif jika dibicarakan dan dikupas disini. Apalagi disini kita juga mengkaji dari segi terminologi, aksiologi, epidemologi, bahkan merambat kepada etiologi dan penanganannya, nah hal ini akan menghabiskan banyak waktu. Belum lagi melihat situasi dan kondisi yang memang selayaknya kita jaga. Terlebih kaum feminis yang saya sangat mengerti kondisinya, pasti mereka sangat tidak setuju dengan hal ini, namun dilain sisi, saya yakin mereka yang mendewakan persamaan gender kali ini akan berpihak dan berbalik meminta tanda tangan saya (Hem..sambil pake kaca mata hitam.) dan sayapun sangat menghargai itu.
Tapi sederhananya seperti ini,Hubunganya dengan bidadari ialah, karena belum ada satu manusiapun dimuka bumi ini yang mampu memegang pundaknya sendiri. Pada saat seperti inilah peran Bidadari sangatlah dibutuhkan untuk membantu memasangkan KOYO..
Tapi sederhananya seperti ini,Hubunganya dengan bidadari ialah, karena belum ada satu manusiapun dimuka bumi ini yang mampu memegang pundaknya sendiri. Pada saat seperti inilah peran Bidadari sangatlah dibutuhkan untuk membantu memasangkan KOYO..
12 Maret 2013..Sambil berzikir dan merencanakan siasat untuk perang pembalasan...
Kamis, 07 Maret 2013
Gondrong Judulnya ..!!!
Kali ini saya tertarik mengomentari tentang rambut...
Belakangan ada pro dan kontra megenai model rambut panjang dikalangan pria yang familiar disebut gondrong. Jika kita tarik kebelakang tentang riwayat para manusia-manusia yang pernah memanjangkan rambutnya. Terjadi beragam pendapat mengenai kenapa mereka memilih memanjangkan rambutnya.
Nah yang saya ingin bahas disini bukan tentang perbedaan pendapat ataupun stigma masyarakat terkait tentang pilihan seorang pria memanjangkan rambutnya. Karena pasti akan terjadi perdebatan bagi yang pro dan kontra, trutama my-mother yang getol melarang gondrongisme dikalangan remaja ataupun pria dewasa.
Orang-orang dulu, terutama kaum adam menjadikan rambut sebagai simbol kesatria mereka bahkan ada yang berpendapat ini simbol kekutan mereka, ini terlihat dari beberapa raja-raja dinusantara yang memang memlihara rambutnya, bahkan kesatria-kesatria maupun pendekar yang terkenal juga turut menjaga rambutnya. Namun semenjak masuknya bangsa-bangsa asing yang berniat menjajah negri ini, mereka mulai menerapkan rambut pendek dengan dalih terlihat seragam dan lebih rapi menurut standart mereka. Namun yang saya lihat justru disini ada unsur intimidasi ingin melihat apakah warga negara waktu itu tunduk terhadap peraturan yang mereka buat. karena memang kesan gondrong lebih dekat dengan penilaian merdeka dan tak ingin diatur. Ini pendapat pribadi dari saya. Bahkan dari kalangan aktivis mahasiswa angkatan 70-80an yang paling getol mengkritisi pemerintah pada waktu kebanyakan memiliki rambut gondrong. Al hasil keluarlah dendrit Priseden Soekarno pada waktu itu yang memerintahkan untuk melarang memanjangkan rambut bagi setiap pelajar terutama dikalangan mahasiswa. Saat reformasi pun demikian, teman-teman mahasiswa yang biasa tampil dimedia dengan getol-getolnya melakukan perlawanan adalah mereka yang terlihat dengan model rambut panjangnya. Dilain sisi juga kita melihat sederetan nama-nama beken ilmuwan, seperti isak newton, albert einsten, jika dari aktor ada tom crus, john lenon, bahkan ada riwayat pun saya pernah baca bahwa Rasullualh S.A.W mensunaahkan untuk memanjangkan rambut dengan catatan rapi dan bersih.
Saya pun masih belum memilki alasan yang kuat mengapa saya memilh untuk memanjakan rambutku sampai hari ini. Jujur, sebenarnya hasrat ini sudah dari dulu pengennya semenjak awal semester masuk kuliah, tapi karena waktu itu jurusan yang saya pilih tak membolehkan masuk lab dengan rambut panjang, mau tidak mau tunduk juga terhadap sistem, sekalipun paling sering ditegur saat mau masuk lab untuk memotong rambut.
![]() |
| Jaman Mahasiswa 2009 |
![]() |
| Ujian Meja 2012, Disuruh cepak sama Pembimbing :( |
![]() |
| Jaman mahasiswa 2011 |
![]() |
| Mulai Terliahat gondrongnya Bulan September 2012 |
![]() |
| Ini Waktu Awal Tahun 2013 :) |
![]() |
| Ini terkhir Bulan Februari 2013 Hehehe.. |
Poin yang ingin saya sampaikan disini bukan suatu pembelaan tentang mereka yang memilih untuk memanjangkan rambutnya, karena sayapun belum menemukan alasan yang tepat kenapa ada hasrat untuk memeanjangkan rambut. Akan tetapi, entah karena aura kelai-lakian saya (Hehehe....belum ada dikamus bahasa indonesia maknanya) ada timbul rasa yang kuat ingin melihat seperti apa wajah yang dititipkan Tuhan ini ketika rambut dipanjangkan. Saya pun belum tahu sampai seberapa panjangnya rambut ini akan bertahan, tapi yang jelas saya hanya ingin melihat diri ini yang sebenarnya itu seperti apa dan belajar menerima diri ini apa adanya, tanpa perlu didandanin ala model apapun semisal ala rambut metrosexsual dengan gaya rambut jambul ala koreanya,dibagus-bagusi, dirapi-rapiin,just wanna real my self. Tapi dengan kesan rapi, tidak rantasa', Jorok, No smoke tentunya... :)
Senin, 04 Maret 2013
Ambillah Surga Untukmu saja..Tak usah kau sisakan untuk mereka..
Sedikit menggelitik memang judul yang kuangkat kali ini. Entah kenapa terlintas difikiranku untuk menulis kejadian yang saya alami saat berada dimusholah fakultas farmasi UGM. Tadi selepas dzuhur, saya dipertemukan oleh seorang yang saya bisa nilai alim, dengan perawakan gemuk,tak terlalu tinggi, rambut menumbuhi bagian kepala dan dagunya. Degan stile celana yang tergantung.
Selepas jamaah bersama, saya sedikit melihat keanehan dengan orang ini, kuperhatikan, sejak pertama bertemu hingga keluar mesjid, tak pernah ada guratan senyum diwajahnya. Entah sedang terkena masalah, atau sedang dilema, atau memang perawakan beliau yang seperti itu,membuat saya segan untuk menyapanya. bahkan melemparkan senyum untuk berbagi pahala dengannya.
Kemudian saya berfikir, apa manfaatnya ibadah jika tak menetramkan hati. Agama didatangkan untuk membahagiakan. Bahkan salah seorang imam besar pernah mengatakan agama datang sebagai rahmatan lilalamin,memberikan kesejukan dan ketentraman bagi pengikutnya. semoga beliau hanya sedang tidak mood tadi ataukah memang tampangku yang keliahatan sangar.
Kembali saya merenung, kadang yang saya takutkan adalah saat kita mengikat diri kita dengan iman kepada Allah, namun kenyataannya kita hanya sebatas melakukan ritual simbolisasi agama untuk sekedar melunasi atau bahasa kasarnya melakukan transaksi kepada Allah atas dasar apa yang telah Dia berikan kepada kita sebagai belas kasih. ya mungkin aga sedikit ekstrim, tapi itulah yang mampu saya lihat secara kasat mata saat ini. Kesan bahwa kita seorang beriman tak mampu kita implementasikan dalam keidupan nyata. Islam saat ini sedang terpuruk dengan berbagai macam problematika umat yang kompleks yang tercermin dari penganut-penganutnya.Kita terlalu sibuk membahas tentang pertentangan fiqh, syariat, serta muamalah-muamalah yang lainnya tanpa pengkajian esensi dari itu semua. Kita sibuk saling mengkafirkan dan menghakimi bagi seseorag yang berbeda ikhwal dengan kita.
Kadang ada yang membatasi marifatullah hanya sebatas konteks yang didapatkan. Allah menantang kita untuk berfikir, agar kita paham apa yang kita perbuat dan tahu apa sebenarnya hikmah yang kita dapatkan dari setiap apa yang terjadi dimuka bumi ini, terlebih kejadian terhadap diri kita sendiri. Hingga pondasi keimanan kita bukan hanya sebatas oleh-oleh yang diberikan oleh leluhur kita, namun memang benar-benar Tauhid. Allah memliki sifat Rahim dan Rahman. Tapi kita seolah melupakan itu. kita sibuk dengan aktiftas dunia bahkan mengkotak-kotakan batasan antara dunia dan akhirat.
Kadang saya berfkir apakah mereka yang tak sepaham dengan kita akan masuk surga ataukah mereka juga dipersiapkan surga masing-masing sesuai dengan ajarannya. Bukanlah suatu perkara yang sulit untuk Tuhan melakukan hal tersebut. Yang jelas kita hanya bisa melaksanakan apa yang sesuai dengan yang kita yakini tanpa memfonis atau masuk kewilayahnya Tuhan. Kita dibekali akal untuk berfikir 'Iqrho selain dari pada itu kita dibekali kitab Suci, dan Al-Quran hanya akan menjadi coretan pena biasa jika kita tak mampu untuk memanfaatkannya dan mengkaji setiap kata-kata yang ada didalamnya sebagai pedoman yang Tuhan hadiahkan untuk kita...
4 Maret 2013..
Minggu, 03 Maret 2013
Hidup Freuequensi
Udah lama tak menyapa mu pena abu-abu.Rinduku melangit, tapi kemalasanku pintar bersilat lidah, hingga lenggoknya membiaskan nafsu untuk melirik mendung agar tak tertarik mempersembahkan kata-kata pujangga untukmu..
Sudah hampir setengah tahun dikota ini, tak terasa waktu pintar memainkan perannya. Entah sudah berapa bab yang kulalui atau berapa kilometer yang aku habiskan. Ini proses yang mesti dilalui.Banyak cerita dari kota ini, yang membuat saya sadar tentang kecilnya diri ini. Raga semakin merasakan bau tanah yang kian menyengat, karena dari situlah asalnya. Fikiran terus bercerita yang tak pernah dimengerti oleh hati.
Kita kecil. Matahari bukan lah kosmos jagad raya. masih ada ayahnya bahkan kakeknya atau buyut-buyutnya yang tak mampu ditampung oleh neutron-neuron serta impul-impuls saraf yang ada didalam otak.
Apa yang mau disombongkan wahai manusia. Kita memasukan manis, asin, renyah, gurih, tapi kita mengubahnya menjadi bahan yang hina dan merasa jijik menyentuhnya terlebih mencium aromanya. Air menyadarkan kita tentang kotornya tubuh ini. Alam mengajarkan kita tentang realitas,relatifitas itu mutlak dan tak bertambah ataupun berkurang bahkan seperti adanya tanpa kita ataupun adanya kita.
Hidup bukanlah tentang pengaruh idelogis atau dogma dari leluhur kita yang harus kita lakukan dalam bentuk ritual penyembahan. Tapi Tuhan menitipkan akal agar kita bisa Iqrho'. Agar kita paham, what,why,how,where dan when you'll doing? or was you take' to inside to u'r self?.....
Ini hanyalah sandiwara....semua indra yang kita punya memliki kepekaan frequensi yang berbeda. Akan tetapi semua diubah menjadi gelombang elektromagnetik didalam otak agar mampu ditranskripsikan, hingga kita berfikir apa ini, dan apa itu. Kemudian muncullah pertanyaan causalitas,sebab dan akibat dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Saya menyimpulkan tentang formulasi hidup hanya ada dua. Pertama, Cermatilah dirimu, sekelilingmu dan diatasmu .Yang beruntung hanyalah orang-orang yang berfikir. Kedua carilah frekuensi dirimu, dimana letak posisimu berada, maka kau akan sadar tentang makna hidup, syukur,sabar,tauhid,menghargai sekelilingmu, dan mejawab teka-teki hidup..
03 Maret 2013 22.22 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)






