Sebenarnya Saya pengagum sastra, saya senang membaca susunan struktur kata yang menggunkan tafsir untuk mengungkap makna dibalik serangkaian kata-kata aneh yang disusun oleh sesepuh kata seperti, Maxim gorky,Chairil Anwar, Taufik Ismail, Ws.Rendra, Pramodya ananta T, Arifin Chairin Noer ,Wiji Thukol..Semua berawal dari Sebuah bacaan tereneh yang membuat saya harus berfikir memahami setiap untaian kalimat dengan akal.'Robohnya Surau Kami' milik A.A Navis. Buku yang mebuat candu seperti senyawa alkaloid 'Morfin' yang diproleh dari Opium (Candu) yang berasal dari getah tanaman Papever Somniferum.
Setelah kuliah, Saya terdampar difakultas farmasi. Saya pun belum menemukan alasan yang mantap mengenai jurusan ini. Bahkan saya mengenal farmasi hanya pada saat mau mendaftar masuk kuliah, namanya terkesan aneh, agak verbal dan sedikit mencekam. Dan akhirnya, saya jalani, dan sekarang saya sudah masuk dalam lingkaran poisoner. Saya seorang farmasis, tetapi saya masih malu mengakuinya. Karena ada beberapa alasan :
Yang pertama. selama ini yang saya pelajari tentang disiplin ilmu ini hanyalah setipis kulit bawang. Beruntung kulit bawang masih bisa dilihat, yang saya takutkan hanyalah setebal kulit sel atau yang sering disebut dinding sel yang dijadikan tameng oleh laskar prokariotik. Yang saya lihat, esensi dari Farmasi adalah farmakologi, adapula yang beranggapan farmakologi dan formulasi, karena memang out put dari farmasi diharapkan paham mekanisme obat didalam tubuh sampai bagaiman menciptakan suatu formulasi obat seusai dengan standarisasi CPOB, dan diharapkan menghapal nama-nama obat. Tapi ketahuilah wahai umat manusia, saya telah difonis sulit untuk menghafalkan, karena kelebihan enzim lupafase.
Yang kedua saya belum terlalu mengenal sektor real dari farmasi itu sendiri. Ruang lingkup yang katanya memang mengakomodir baik dari segi preventiv, kuratif, bahkan optimasi. Disiplin ilmu ini saya rasa sangat luas sekali.
Dalam farmasi sendiri, banyak penjurusannya, Ada yang minat keFarmakologi, Farmakognosi, Formulasi, Drug Delivered, Bioteknologi, Molekuler Doking, Banyak lagi yang lainya. Yang sebenarnya saya lihat kita mulai menjarah lahan yang bukan hak kita. Kita mempelajari elusidasi Strukur, Instrument, Analisis kimia sampai mendetail, bahkan sampai ilmu ekonominya pun ada, sebagai bekal ketika ada yang berminat menjadi seorang praktisi yaitu apoteker, perusahaan obat dan lain-lain.
Yang saya rasakan sebenarnya Disiplin ilmu ini adalah disiplin ilmu gado-gado. Farmasi dibangun dari pondasi, Biologi, Kimia, Fisika, Bahkan ada ilmu sosialnya sampai hitung-hitung uang untuk biaya apotik.
Namun apa yang terjadi dilapangan tak sesuai dengan harapan. Ternyata saya jatuh hati dengan farmasi. Salah satu mata pelajaran yang kugemai waktu diSMA adalah kimia terlepas dari gurunya yang kadang membuat hati berdebar-debar dan menggangugu konsetrasi, apalagi farmasi ini, lebih banyak berbicara tentang Kimia. Selain dari itu, saya memliki kelaianan, mudah terharu, melihat rumus bangun senyawa-senyawa dengan berbagai model sarang laba-laba. Kelainanku yang senang melamun sambil memperhatikan reaksi kimia, alat-alat lab, serta eksplorasi apa2 saja yang saya anggap asing. Kadang saya tak mengerti kenapa terjadi seperti itu.
Dan akhirnya hati pun dipilih bukan memilih, Farmasi sebagai jalur biotranformasi hidupku untuk menjalani hidup, agar kelak bisa menghasilkan metabolit-meatabolit kehidupan sebagai instrumen penunjang untuk menjadi seorang khalifahnya Allah secara holistik dimuka bumi ini.
Amin..Ya Allah..
20 Maret 2013, Sambil Kuliah Fitofarmaka, yang dibawakan oleh Prof. Pramono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar