Sabtu, 27 Juli 2013

Negeriku Seng Gundoh..!!!

Saya awali tulisan ini dengan mengambil kutipan dari persiden pertama republik ini, Bpk Ir soekarno, berikan aku seratus orang tua maka akan kupindahkan semeru, berikan aku tujuh orang pemuda maka akan ku ubah dunia.

Pertanyaanya kemudian ?? apa hubungannya dengan judul dari tulisan ini? 
Saya tak yakin seandainnya kalimat ini masih bisa diadopsi untuk para pemuda bangsa saat ini,  bung karno menuliskan frasa ini disaat kondisi pemuda saat itu memiliki semangat serta karakter juang yang kuat yang disatukan oleh penderitaan akibat penjajahan. 

Jauh berbeda dengan kondisi saat ini, dimana kita disatukan dalam konflik-konflik perpecahan. Kita disatukan dalam penjajahan yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan penjajahan yang terdahulu, yakni penjajahan moral. 

Kita bisa lihat kondisi bangsa saat ini.
Kita awali dari anak-anak. Kebanyakan dari mereka  saat ini, sedari kecil sudah dikonsumsikan dengan berbagai macam fasilitas  canggih yang jauh lebih memudahkan dalam peroses belajar dan juga bermain, jauh berbeda dibanding mereka yang hidup  di jaman dulu. Harapannya dengan kemudahan ini dapat memicu pola pikir dan pengembangan karakter mereka, akan tetapi yang amat disayangkan, realitas  yang ada justru penyakit negeri ini kian komplikated, ditengah kemerosotan moral. Hal ini ikut diperparah dengan semakin sempitnya waktu pelajaran  pendidikan keagaman dan pendidikan dibangku sekolah.

Baru-baru kemeren kita dikejutkan diawal ramadhan,sekelompok siswa sma di gerebek sedang sahur dengan minum-minuman keras, dan parahnya siswi perempuan pun ada didalamnya. Beberapa hari berikutnya, lagi-lagi dengan pemberitaan yang sangat memilukan, pembunuhan sisiwi smp yang dibakar hidup-hidup yang sebelumnya diperkosa terlebih dahulu oleh teman satu sekolahnya sendiri. Tak hanya itu pemberitaan mengenai anak sd yang membunuh temannya yang dikarenakan hutang seribu yang belum dibayar hingga sang pelaku anak sd ini nekat membunuh temannya turut menghiasi pemberitaan media yang menambah kian suramnya masa depan negeri ini. 

Mengambil kutipan Emha Ainun Najib dalam bukunya 'markesot bertutur', dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada lapar tapi tetap mempertahankan harga dirinya. Kedepannya negeri ini akan dipimpin oleh-manusia-manusia kecil saat ini, manusia-manusia yang terlanjur sujud diatas sajadah nafsu materialistisnya. Jika kita berbicara tentang remaja saat ini. Realitanya, mall dipenuhi dengan muda-mudi yang sibuk mengurusi penampilannya, menghabiskan waktu dedepan pees, pc game online, jejaring sosial. Belum lagi sebagian mereka yang mengahabiskan waktunya didepan televisi menunggu bintang pujaannya tampil sambil berlomba mengirim suport agar pujaannya tak tereliminasi.

Kondisi kampus, saat ini fasilitas kampus kian lengkap dan dibuat secomfort mungkin, mahasiswa dibuat betah berada dikandangnya, hingga melupakan keadaan diluar teritorialnya, yang justru jika kita ingin melihat kondisi sebenanrnya, kondisi diluar sanalah yang akan mereka hadapi kedepannya dan akan menjadi kampus sebenarnya. Selogan the human of surface yang sangat familiar dibumikan saat masa orientasi kampus kini kian apek baunya karena terpaan angin sepoi-sepoi yang menghanyutkan. Potret kegiatan kamahasiswaan yang sangat sedikit menyentuh nilai humanis, minimnya karakakter pemuda yang peduli akan sesama dan bangsanya, saat ini universitas berhasil membuat manusia-manusia pencetak tenaga kerja yang siap dengan surat lamarannya, kemudian karya-karya ilmiah yang hanya jadi tumpukan sampah, ijasah yang dimanfaatkan hanya untuk kenaikan pangkat. Tak ada asas pemanfaatan ilmu. Semestinya yang patut dipertanyakan,  betapa banyak akademisi dan tokoh-tokoh pemikir dinegeri ini, namun kontribusi keilmuannya masih belum dirasakan hasilnya, negeri ini masih menjadi sasaran  empuk negara-negara maju untuk melempar hasil produksinya, hingga mental kita menjadi mental konsumen dan kita kian dimanja dengan berbagai macam produk-produk luar negeri, hingga kita sudah  melupakan bagaimana menjadi negera mandiri yang bisa hidup dengan buah tangan sendiri. Miris rasanya mendengar negeri agraris harus mengimport beras karena pasokan beras dinegerinya kurang. Seakan kekayaan serta kelimpahan sumber daya di negeri ini justru menjadi kan bumerang buat kita.

Belum lagi pemerintah yang turut menambah daftar panjang semakin buramnya negeri ini, kasus koruptor, perebutan kekuasaan, pencitraan, kepentingan golongan, hingga mereka yang mengaku terzolimi untuk meraup suara dan simpati rakyat pun turut menambah betapa hebatnya negeri sandiwara ini. Entah sampai berapa epiode berakhirnya sinetron ini.

Negeri yang notabene, Tuhan telah bekali dengan berbagai macam kekayaan alam, serta beragam suku budaya dengan keunikannya masing-masing, namun justru membuat kita saling menghunus  pedang terhadap sesama hanya karena jenggot yang tak panjang, logat tak sama, marga yang berbeda, kecemburuan sosial akibat status pendatang dan warga asli. Penghujat satu sama lain, menusuk sesamanya dari belakang , saling berlomba mengumpulkan pundi-pundi hartanya tanpa memikirkan tetangganya yang sedari kemarin hanya manguyah daun singkong dan garam.

Sebagaimana Tuhan yang hanya memberikan kita bahan mentah, yang harapannya  kita dapat mengolahnya sebagai suatu produk berdaya guna untuk melanjutkan kehidupan dalam suatu kelayakan. Dalam tulisan ini saya tak akan memberikan gambaran solusi dan hanya melemparkan bola api yang saya harap kita tau cara untuk meresponnya. Mari kita belajar bagaimana menanganinya secara arif dan bijaksana, bersama dengan modal ukhuwah dan tali persaudaran, yang telah dirangkum dalam kebinekaan tunggal ika yang telah jauh-jauh hari dipersiapkan oleh founding father negeri ini. Saya harap kita bisa merenung sejenak dan mepertanyakan kedalam diri kita masing-masing, akan kerah mana negeri ini kita bawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar