Minggu, 23 Maret 2014

'GEN FARMASIS'

.....
Jika ditanya apa alasan menjadi seorang Farmasis dan mendalami Ilmunya?. mungkin saya hanya akan menjawabnya dengan senyuman. Hingga hari ini, saya belum pernah menemukan orang yang 'bretul-betul membutuhkan ilmu ini (Subjektif).  Sebagian besar yang membeli jasa kefarmasian khususnya indonesia justru tergolong kaum Berada dan sebagiannya lagi kaum menengah yang serba kecukupan (Saya masuk dalam kelompok ini).

Kebanyakan dari mereka didiagnosa mengidap penyakit-penyakit Degeneratif, dimana salah satu penyebab pengakit kelompok ini bukan akibat kekurangan asupan makanan ataupun mall nutrizi, melainkan pola hidup yang berlebih-lebihan terhadap makanan. Mereka hanyalah sekumpulan orang yang terpapar akibat ulah tangan mereka sendiri dan  lupa bersyukur. Penyakit yang diebakan oleh kerakusan dan ketamakan penderitanya.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka yang membutuhkan pengobatan saat ini adalah golongan yang mampu membeli obat dengan hanya ongkang-ongkang kaki, kemudian kembali kekehidupan borjuis’nya dengan smartphone berlogo buah yang selalu lengket ditangannya. Jika kembali terpapar lalu menyesal karena makan dan hidup berlebih-lebihan dan bergulir terus seperti itu.

Untuk apa mengobati golongan seperti ini, dimana letak manfaatnya??. Hingga hari ini saya belum menemukan orang yang benar-benar membutuhkan sentuhan Ilmu ini.

Kadang saya pun berfikir menjadi tenaga medis bukanlah suatu profesi sumber mata pencaharian. DNA dari  tenaga medis itu ‘menolong’, dan saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menerima pamrih dari hasil ‘menolong’ sesama yang sedang membutuhkan. Saya pun mengkategorikan perbuatan ‘menolong’ ini adalah tugas para nabi. Dan hanya manusia jelmaan malaikat yang bisa melakukannya ditengah kondisi masyarakat seperti ini. Dan mungkin itu sebabnya Tuhan belum menakdirkan saya menjadi Apoteker dan memilki apotek. Sepertinya Apotek terlalu kecil untuk mewadahi keinginanku yang terlalu besar.
Sekarang yang rasional dalam fikiranku hanyalah  menemukan orang-orang yang benar-benar membutuhkan ‘pertolongan’ Ilmu ini. Kata-Nya !!! mereka ada di lorong-lorong jembatan, diperkampungan-perkampungan kumuh, di pinggir-pinggir kali-kali mampet. Di rumah-rumah beratapkan kaleng-kaleng minyak yang berkarat.Di kawasan terisolir dan kekeringan akibat kebijakan bodoh pemerintahnya.

Hasrat ingin untuk bertemu, hidup dan tinggal bersama mereka begitu besar. Bermain dan tertawa dengan aroma terbakar akibat bau aspal dan tandusnya kampung mereka. Duduk dan makan bersama dengan tangan kanannya yang masih penuh tanah akibat mencari nafkah. Meramu dan mencarikan alternatif obat yang jauh lebih murah untuk mengobati sakit yang diakibatkan kemiskinan dan kerakusan para pemimpin-pemimpin mereka.
Tapi sayannya jeritan mereka tak pernah sampai didepan pintu kos dan dan pintu kampus...??? Apa ada yang sengaja 'menyembunyikan' mereka agar jeritannya tak terdengar sampai ke 'Istana' hingga menggangu tidur siang para pemimpinnya dan menganggu saudara-saudara se'KTP'nya dibalik kaca mobil Alvard’nya.

Siall..Saya Tertipu..!!!

Nb: mohon maaf tak bermaksud menyinggung, tapi jika memang tersinggung berarti artikel ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar