Tetesan mewujudkan akan hadirnya diri mu
Kadang kau begitu di nanti, namun...
Kadang pula tingkah dan ulahmu justru di caci
Kasihan..Kasihan
Hujan..
Aku tahu sebenarnya kamu hidup
Kamu mendengar, menyimak Setiap ocehan cetus kami
Tapi itulah dirimu Hujan
Mulutmu di kunci, tapi tangan dan kakimu leluasa berkomunikasi
Saya memilih untuk menikmati riak mu saja..
Itulah tabiat kebanyakan dari kami, hujan...
Terkadang untuk menilai lebih ringan di banding mengangkat secangkir kopi..
Menyadurkan tangan kanan dan bersahabat dengan mu, itu lebih baik..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar