Minggu, 10 Juni 2012

Celoteh Angin menyambut Layang-Layang Mimpi...


.........
Setetes embun  menyapa lamunanku pagi ini.
Langit nampak kesepian ditinggal pergi tuannya dan hanya meninggalkan untaian kelabu....
Namun hal ini tak menarik perhatian Hujan untuk menurunkan pasukannya turun ke bumi...
Seakan payung  Tuhan datang untuk menaungi perjalanku dan Dia mempersilahkan Mentarinya untuk beristirahat sejenak...
Kucoba melangkah dengan Kaki kanan terlebih dahulu diikuti batin yang turut mengeluarkan Lafaz bismillah. Kata ini selalu menjadi mantra sederhanaku untuk menaklukkan teka-teki kehidupan misterius ini..
Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakan kaki ditanah jawa....
Memang bukan saya orang pertama dari kampungku yang menginjakkan kaki dikota ini, namun ini menjadi sejarah panjang perjalan seorang anak kampung yang berasal dari kaki gunung belantara Kalimantan yang terlanjur melemparkan mimpi-mimpinya ditiang-tiang langit yang tak akan terlampau oleh angin...

Kenangan semalam bersama ke empat sahabatku serta kerinduan akan senja dan buaian lembut mesra angin mamiri belum bisa melepaskan diri dari ingatanku....
Kuperhatiakan kebelakang ternyata jejak langkah sudah terlampau jauh...
Dihadapanku nampak di kejauhan medan sudah di persiapkan Tuannya hanya untuk menyambut kedatangan ku. Terlihat diujung sana rintangan yang nampak semu karena  tertutup kabut dan entah bagaimana bentuknya, namun keyakinan ku dipuncaknya ada istana langit yang sedang menanti keletihanku...


Kaki kananku menjadi saksi bahwa saya sudah pernah menginjakan kaki ditanah jawa.
Setiba di bandara Juanda tujuan selanjutnya adalah stasiun kereta yang akan mengntarkanku menuju tempat dimana sudah ada mimpi-mimpi indahku menanti disana...
Pagi itu saya ditemani seoarang sahabat lamaku yang sudah ku titipkan pesan sebelum hari kerangkatanku  agar kiranya dapat menjemput di Bandara kota Kembang ini..
Muhadi chani namanya, Nampak raut wajah beliau masih tetap bercahaya masih sama seperti dulu, rangkulan serta jabatan tangannya kusambut dengan rasa rindu yang sudah hampir gersang karena dua tahun lamanya tak bertemu...

Sebelum menuju stasiun kami singgah dulu untuk mengisi energi yang sudah sedari tadi mulai terkuras. Pilihan kami tertuju pada warung kaki lima yang cukup ramai siang itu tepat disudut taman kota..
Kuperhatiakn dibagian depan warung tersebut tertulis ‘Soto Lamongan’ dengan latar hijau kainnya..
Salah satu Kuliner khas Kota ini yang cukup familiar kudengar, kali ini saya bisa merasakan masakan langsung dari tempat asalnya. Saya dapat menyimpulkan sekalipun banyak makanan khas daerah yang membuka cabang-cabangnya didaeah-daerah.
Namun kita akan mendapatkan sensasi yang berbeda ketika kita menikmati makanan yang diperoleh langsung dari sumbernya...
Selepas itu lalu kami beranjak menuju stasiun tua tepat berada ditengah kota surabaya. Stasiun Gubeng menjadi pilihan nama yang unik untuk rumah singgah kendaraan besi cepat peninggalan jaman belanda ini.
Suasana beranjak siang.  Nampak Langit sudah mulai berawan dengan kilau biru indahnya ditemani dengan  surya yang nampak sudah kembali mengambil alih tugasnya....
Setelah menukarkan tiket dengan sisa uang receh yang tersimpan dikantong sebelah kiri jaket abu-abu lunturku. Lalu saya beranjak naik keatas kereta yang baru saja tiba dari stasiun sebelumnya yang entah ku tahu apa namanya..

Diatas kereta kumencari gerbong 6 kursi 18c sesuai dengan yang tertera di tiket ku. Ternyata letaknya tepat sudut sebalah kiri gerbong bersebelahan langsung dengan jendela yang sudah sedikit lusuh dimakan umur. Dalam hatiku berguman tempat yang ideal untuk melepas lelah sambil kembali berkunjung kenegri khayalku...

Masisnis mulai menarik gerbong-gerbong besinya, tepat pukul 10.00  pagi saya meninggalakan stasiun dengan model interior belanda masih melekat disekelilinnya itu, alunan lagu david cook mengalir indah diruang dengarku, sementara diluar terhampar hamparan sawah luas yang dibatasi perbukitan, hal ini menjadi suguhan menearik siang itu untuk mengobati sedikit rasa lelah yang sedari tadi menghampiri...

Tiba-tiba Lamunanku sedikit terganggu, kuperhatikan disudut kejauhan ada pemandangan yang berbeda diujung sana, Ku meilihat Layang-layang Mimpiku Terbang kokoh berdendang bersama angin, membuat awan biru cemburu karena saya tak menghiraukannya.
Sesaat Adrenalin ku kembali memuncak, rasa ingin berlari mengejar layang-layang itu.....
Dalam hati berguman “Ya tetaplah terbang Layang-Layangku..Saya akan terus belajar menjadi dalang yang baik untuk mempertahankanmu bisa bersahabat dengan angin...

Kotak Mimpi, Ditulis dihalaman  buku harian biru yang setia menemani perjalanan menuju mimpiku..16.35 WIT 7 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar