.........
Setetes embun menyapa lamunanku pagi ini.
Langit nampak kesepian ditinggal pergi tuannya dan hanya
meninggalkan untaian kelabu....
Namun hal ini tak
menarik perhatian Hujan untuk menurunkan pasukannya turun ke bumi...
Seakan payung Tuhan datang
untuk menaungi perjalanku dan Dia mempersilahkan Mentarinya untuk beristirahat
sejenak...
Kucoba melangkah dengan Kaki kanan terlebih dahulu diikuti batin
yang turut mengeluarkan Lafaz bismillah. Kata ini selalu menjadi mantra sederhanaku
untuk menaklukkan teka-teki kehidupan misterius ini..
Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakan kaki ditanah jawa....
Memang bukan saya orang pertama dari kampungku yang
menginjakkan kaki dikota ini, namun ini menjadi sejarah panjang perjalan seorang anak kampung yang berasal dari kaki gunung belantara Kalimantan yang terlanjur
melemparkan mimpi-mimpinya ditiang-tiang langit yang tak akan terlampau oleh
angin...
Kenangan semalam bersama ke empat sahabatku serta kerinduan
akan senja dan buaian lembut mesra angin mamiri belum bisa melepaskan diri dari
ingatanku....
Kuperhatiakan kebelakang ternyata jejak langkah sudah terlampau jauh...
Dihadapanku nampak di kejauhan medan sudah di persiapkan Tuannya
hanya untuk menyambut kedatangan ku. Terlihat diujung sana rintangan yang nampak
semu karena tertutup kabut dan entah bagaimana
bentuknya, namun keyakinan ku dipuncaknya ada istana langit yang sedang menanti
keletihanku...
Kaki kananku menjadi saksi bahwa saya sudah pernah menginjakan
kaki ditanah jawa.
Setiba di bandara Juanda tujuan selanjutnya adalah stasiun
kereta yang akan mengntarkanku menuju tempat dimana sudah ada mimpi-mimpi indahku
menanti disana...
Pagi itu saya ditemani seoarang sahabat lamaku yang sudah ku
titipkan pesan sebelum hari kerangkatanku
agar kiranya dapat menjemput di Bandara kota Kembang ini..
Muhadi chani namanya, Nampak raut wajah beliau masih tetap
bercahaya masih sama seperti dulu, rangkulan serta jabatan tangannya kusambut
dengan rasa rindu yang sudah hampir gersang karena dua tahun lamanya tak bertemu...
Sebelum menuju stasiun kami singgah dulu untuk mengisi
energi yang sudah sedari tadi mulai terkuras. Pilihan kami tertuju pada warung
kaki lima yang cukup ramai siang itu tepat disudut taman kota..
Kuperhatiakn dibagian depan warung tersebut tertulis ‘Soto
Lamongan’ dengan latar hijau kainnya..
Salah satu Kuliner khas Kota ini yang cukup familiar
kudengar, kali ini saya bisa merasakan masakan langsung dari tempat asalnya.
Saya dapat menyimpulkan sekalipun banyak makanan khas daerah yang membuka cabang-cabangnya
didaeah-daerah.
Namun kita akan mendapatkan sensasi yang berbeda ketika kita
menikmati makanan yang diperoleh langsung dari sumbernya...
Selepas itu lalu kami beranjak menuju stasiun tua tepat berada
ditengah kota surabaya. Stasiun Gubeng menjadi pilihan nama yang unik untuk
rumah singgah kendaraan besi cepat peninggalan jaman belanda ini.
Suasana beranjak siang. Nampak Langit sudah mulai berawan dengan kilau
biru indahnya ditemani dengan surya yang
nampak sudah kembali mengambil alih tugasnya....
Setelah menukarkan tiket dengan sisa uang receh yang tersimpan
dikantong sebelah kiri jaket abu-abu lunturku. Lalu saya beranjak naik keatas
kereta yang baru saja tiba dari stasiun sebelumnya yang entah ku tahu apa
namanya..
Diatas kereta kumencari gerbong 6 kursi 18c sesuai dengan
yang tertera di tiket ku. Ternyata letaknya tepat sudut sebalah kiri gerbong
bersebelahan langsung dengan jendela yang sudah sedikit lusuh dimakan umur. Dalam
hatiku berguman tempat yang ideal untuk melepas lelah sambil kembali berkunjung
kenegri khayalku...
Masisnis mulai menarik gerbong-gerbong besinya, tepat pukul
10.00 pagi saya meninggalakan stasiun dengan model interior belanda masih melekat disekelilinnya
itu, alunan lagu david cook mengalir indah diruang dengarku, sementara diluar terhampar hamparan sawah luas yang dibatasi perbukitan, hal ini menjadi suguhan menearik siang itu untuk mengobati sedikit rasa lelah yang sedari tadi menghampiri...
Tiba-tiba Lamunanku sedikit terganggu, kuperhatikan disudut
kejauhan ada pemandangan yang berbeda diujung sana, Ku meilihat Layang-layang Mimpiku Terbang kokoh berdendang
bersama angin, membuat awan biru cemburu karena saya tak menghiraukannya.
Sesaat Adrenalin ku kembali memuncak, rasa ingin berlari mengejar
layang-layang itu.....
Dalam hati berguman “Ya tetaplah terbang Layang-Layangku..Saya
akan terus belajar menjadi dalang yang baik untuk mempertahankanmu bisa
bersahabat dengan angin...
Kotak Mimpi, Ditulis dihalaman buku harian biru yang setia menemani
perjalanan menuju mimpiku..16.35 WIT 7 Juni 2012


Tidak ada komentar:
Posting Komentar