Sore ini, jogja bersahabat. Ada lambaian tangan dikejauhan, seperti harap yang ingin didekati oleh kedua bola mata yang tak mampu menginterpretasikannya.
Tadi pagi sebelum kekampus,Tivi Pak kos sudah sibuk mengoceh, media dinegri ini sangat semangat menelajangkan politikus yang dianggap sebagai tersangka penjilat keringat rakyat. Sambil menyeruput kopi pahit kapal api, telinga ini pun tak ingin kalah mengambil perannya ikut menyimak ocehan ibu-ibu nuda yang ada didalama tivi itu.Samar terdengar pemberitaan tentang kasus petinggi-petinggi partai yang terjerat kasus korupsi. Lalu juga ada seorang mantan kepala kepolisian negeri ini yang memilki aset diluar kewajaran. Dalam hati berguman' pagi-pagi sudah disuguhkan dengan informasi yang membuat naik darah, bagaimana mau menatap indonesia lebih baik, sementara energi negatif trus menjadi sarapan pagi, dilalin sisi para orang pintar negeri ini pun sibuk mengeyangkan kantong-kantong bolongnya. Jujur, telinga mungkin sudah resisten dengan berita yang seperti ini, karena sudah hampir tiap waktu suguhan berita hanya membahsa seputaran topik itu saja. Bahkan seolah korupsi sudah menjadi suatu tabiat yang dianggap biasa di negeri ini. Selanjutnya kakipun melangkah menuju kampus.
Sepulang dari kampus, saat keluar dipintu gerbang, ada seorang ibu-ibu dengan postur gemuk sambil duduk diatas trotoar, nampak sehat fisiknya memanggil-manggil sambil menyodorkan wadah plastik, yang kuperkirakan adalah kemasan mie instan popmie. Uang dikantong tinggal seribu itupun receh limaratusan dua biji. Nampak tangan ingin mengambilnya dikantong celanaku bagian sebelah kanan. Tapi tiba-tiba ada bisikan halus disebelah kiriku yang melarangnya dan berkata seperti ini, 'Perhatikan dia, tubuhnya gemuk, sehat, bahkan senyum-senyum, tak ada mimik wajah yang menandakan hidup susah, kau hanya akan membuang-buang uang recehmu untuk dibagikan kepemalas seperti mereka'. Lalu tangan kananpun urung menyentuh uang logam tadi, sambil menunggu malaikat baik hati dari sebelah kanan urung berkomentar. Al hasil niat yang ingin bersedekah tidak jadi, karena wejangan bisikan sebelah kiriku.
Saya pun berlalu dihadapan ibu tadi, sambil permisi dan hanya menyumbangkan senyum kepanya. Ada rasa bersalah, dan sedikit kasihan melihatnya, tapi mau diapakan lagi. Sambil berlalu didalam hati, turut mendoakan beliau agar rejekinya dimudahkan, dan mendapat hidayah, untuk mencari rejeki melalui jalan lain yang jauh lebih baik.
Setiba dirumah perut sudah mulai memberikan sinyal untuk segera di berikan haknya untuk diisi. Setelah sedari malam sampai siang ini belum sempat menjamunya. 'Sambil mengais recehan yang ada didalam botol aqua besar, yang sengaja saya koleksi sejak pertama datang kekota ini. Sudah hampir setenga botol terisi uang receh, mulai dari seratus,duaratus,limaratus dan recehan seribu. Pada saat kondisi seperti ini, celengan receh ini sangat membantu. Ditengah kondisi mesin ATM yang enggan memberikan muntahan rupiahnya, karena saldoku tak lagi cukup untuk menggodanya. Setelah di korek-korek dengan jari telunjuk Alhamdulillah terkumpul recehan genap lima ribu rupiah, cukup untuk dibelikan nasi telur. Sudah sebulan, dana beasiswa tak kunjung cair, dengar-dengar dari bapak yang mengurus bagian beasiswa, ada penundaan dari pusat karena sedang ada pemeriksaan untuk memperbaiki data keuangan kementrian pendidikan, serta menelusuri aliran dana yang keluar dikementrian, apakah benar sesuai dengan target dan sampai sesuai dengan pengelolannya. Banyak yang beliau ceritakan, tapi saya hanya manggut-manggut, seolah-olah mengerti, sebenarnya niatnya datang ingin komplain, tapi karena mimik beliau yang begitu kemayu dan sangat sopan, hingga mengurungkan niat.
Setelah cukup lima ribu perak, sepeda melaju ke rumah makan padang didekat selokan mataram.
Setelah makan dan membayar dengan uang recehan tadi. Lalu kembali kekos. Tiba dikos' lalu merebahkan badan. sambil menerawang keatap-atap langit kamar sambil membayangkan kajadian tadi yang saya alami. Mulai dari para koruptor yang sedang santer diberitakan media. Cerita tentang ibu-ibu sehat yang sedang mengemis dan keuangan yang kering dipertengahan bulan. Seperti ada suatu garis integrasi, yang mempertemukan ketiga titik ini. ketiga varibel ini : meminta, kekeringan dan kerakusan, membent suatu titik temu yang saya beri nama sudut Lelap..saatnya istirahat sejenak......
20 Maret....
20 Maret....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar