Rabu, 27 Maret 2013

Eksotisme Rinjani Negeri Para Dewi...

Keberangkatan kali ini cuman berdua sama denni, teman dari ITS Surabaya, awal kenal saat bertemu dimalang barengan menuju semeruKebetulan dia baru kelar ujian meja untuk mendapat gelar ST-nya, selamat my Bro. Momen ini dijadikan  penghilang penat selama ngurus skripsinya sekalian syukuran kecil-kecilan dipuncak rinjani.

Setelah cek kembali perlengkapan serta peralatan untuk persiapan nyummit. Tanggal sebelas ferbuari saya berangkat dari stasiun lempuyangan menuju stasiun gubeng surabaya. Disurabaya kami janjian bertemu untuk mematangkan konsep perjalanan serta mengevaluasi peralatan serta akomodasi yang akan dibawa.

Perjalan rinjani dimulai keesokan hariya, kami menuju terminal surabaya, memilih bis yang langsung sampai kemataram, Lombok. Rencana awal di ROP Pendakian kita mau estafet aja, mulai dari surabaya naik kereta menuju banyuwangi, nyebrang bali, dan naik feri menuju lombok. Tapi karena kehabisan tiket, mau ga mau alternatifnya nai bis. Alhamdullialh dapat yang lumayan murah setelah terjadi penawaran yang sedikit alot dan panjang.

Puncak Rinjani Dari kejauhan tertutup Kabut
Kesokan harinya kami tiba di pelabuhan mataram, dijemput teman dari UNRAM (Universitas mataramam) Akh pendi. Karena tiba disana sudah hampir, kami sepakat untuk bermalam satu malam di sekertariat mesjid kampus Unram sambil memulihkan stamina selama perjalan yang cukup melelahkan.

Puncak Rinjani Dikejauhan
Setelah sholat Subuh kami berangkat menuju pasar hiberaitaise dengan minibus. Tiba disana kami harus mencari angkot sayur yang akan menuju sembalun. karena tidak ada angkot yang menuju kesana. Jadi alternatifnya kita nebeng mobil L-300 yang kan menuju sembalaun. Kami berangkat bersama ibu-ibu dan warga yang telah menjual hasil kebunnya di ibu kota kecamatan tersebut.

Bersama Ibu-Ibu dimobil pengangkut Sayur
Tiba disembalun, kami diantar disalah satu jalur tikus disudut perkampungan oleh bapak supir mobil yang kami ikuti. Informasi dari beliau 'Jalur ini jalur alternatif dan jarak tempuhnya tak terlalu jauh. Jalur ini memang jarang dialuli pendaki. Jalur pendakian regular masih ditutup hingga april dan sejak beberapa hari lalu, informasi dari warga tak ada satupun pandaki yang muncak.

Akhirnya kami berangkat pagi pukul sembilan, disini kami melewati padang safana (Padang Rumput alang-alang) yang terhampar luas, Ditemani teriknya matahari, nampak dikejauhan sekelompok burung memanfaatkanya untuk mencari mangsa. Tebing-tebing dan bukit-bukit menjulang yang ditumbuhi ilalang menjadi pemandangan yang mampu menghalau lelah.

Jumlah pos yang harus dilewati tak terlalu banyak, hanya saja jarak antar pos yang lumayan berjauhan. Tiba dipos dua kami singgah istirahat dan mengisi kekosongan perut. Treking dimulai saat tiba dipos tiga, sampai pelewangan. Kondisi treking yang lumayan licin dan melewati hutan cemara yang tidak terlalu lembat, mebuat kami sedikit kewalahan.
Istirahat dijalur pos tiga menuju Pelewangan

Alhamdulillah tiba di pelewangan malam pukul tujuh. Seperti yang kami duga tak ada seorang pun diatas. Kami hanya berdua.Kondisi sangat sepi, ditemani melodi angin yang memang cukup ribut. Segera kami mencari tempat untuk membangun tenda, yang tak terlalu jauh dengan sumber air.

Malam itu cerah, Langit dan Bintang bermetamofosis menjadi hiburan ditengah kesunyian, nampak ujung pulau dikejauhan yang membatasi laut dan dari lampu-lampu rumah penduduk. Ini lah yang dibayar mahal. Begitu berharganya sebuah perjuangan, dan semua terbayar malam ini.
Semua terasa dekat.  Ada kepuasan batin saat kita berada dipuncak tertinggi.
Kamu akan merasa sanagat kecil dan hanya ada takjub, tanpa ada embel  basa-basi...
Plewangan Dan Danau Bongkahan Rinjani

Negeri ini kaya, Hanya saja, pemimpinnya yang Rakus, Indonesia memang layak dibayar darah oleh Kakek-kakek pahlawan kita terdahulu. Andai semua orang bisa melihat ini. Mungkin mereka akan sependapat dengan ku. Terkadang puncak keindahan tak kan mampu di wakilkan  kata-kata..

Kesokan paginya.Ternyata kami tak sendiri. Penghuni Rinjani pun datang bertandang mengelilingi tenda untuk meminta makan. Hati-hati bila ke rinjani, Ternyata banyak monyet yang sedikit galak jika tak dikasih makan....

Tugu Plewanagan
Quitness


















Tigabelas Februari Dua Ribu Tgabelas...Stasiun Kota Baru Banyuwangi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar