Sedikit menggelitik memang judul yang kuangkat kali ini. Entah kenapa terlintas difikiranku untuk menulis kejadian yang saya alami saat berada dimusholah fakultas farmasi UGM. Tadi selepas dzuhur, saya dipertemukan oleh seorang yang saya bisa nilai alim, dengan perawakan gemuk,tak terlalu tinggi, rambut menumbuhi bagian kepala dan dagunya. Degan stile celana yang tergantung.
Selepas jamaah bersama, saya sedikit melihat keanehan dengan orang ini, kuperhatikan, sejak pertama bertemu hingga keluar mesjid, tak pernah ada guratan senyum diwajahnya. Entah sedang terkena masalah, atau sedang dilema, atau memang perawakan beliau yang seperti itu,membuat saya segan untuk menyapanya. bahkan melemparkan senyum untuk berbagi pahala dengannya.
Kemudian saya berfikir, apa manfaatnya ibadah jika tak menetramkan hati. Agama didatangkan untuk membahagiakan. Bahkan salah seorang imam besar pernah mengatakan agama datang sebagai rahmatan lilalamin,memberikan kesejukan dan ketentraman bagi pengikutnya. semoga beliau hanya sedang tidak mood tadi ataukah memang tampangku yang keliahatan sangar.
Kembali saya merenung, kadang yang saya takutkan adalah saat kita mengikat diri kita dengan iman kepada Allah, namun kenyataannya kita hanya sebatas melakukan ritual simbolisasi agama untuk sekedar melunasi atau bahasa kasarnya melakukan transaksi kepada Allah atas dasar apa yang telah Dia berikan kepada kita sebagai belas kasih. ya mungkin aga sedikit ekstrim, tapi itulah yang mampu saya lihat secara kasat mata saat ini. Kesan bahwa kita seorang beriman tak mampu kita implementasikan dalam keidupan nyata. Islam saat ini sedang terpuruk dengan berbagai macam problematika umat yang kompleks yang tercermin dari penganut-penganutnya.Kita terlalu sibuk membahas tentang pertentangan fiqh, syariat, serta muamalah-muamalah yang lainnya tanpa pengkajian esensi dari itu semua. Kita sibuk saling mengkafirkan dan menghakimi bagi seseorag yang berbeda ikhwal dengan kita.
Kadang ada yang membatasi marifatullah hanya sebatas konteks yang didapatkan. Allah menantang kita untuk berfikir, agar kita paham apa yang kita perbuat dan tahu apa sebenarnya hikmah yang kita dapatkan dari setiap apa yang terjadi dimuka bumi ini, terlebih kejadian terhadap diri kita sendiri. Hingga pondasi keimanan kita bukan hanya sebatas oleh-oleh yang diberikan oleh leluhur kita, namun memang benar-benar Tauhid. Allah memliki sifat Rahim dan Rahman. Tapi kita seolah melupakan itu. kita sibuk dengan aktiftas dunia bahkan mengkotak-kotakan batasan antara dunia dan akhirat.
Kadang saya berfkir apakah mereka yang tak sepaham dengan kita akan masuk surga ataukah mereka juga dipersiapkan surga masing-masing sesuai dengan ajarannya. Bukanlah suatu perkara yang sulit untuk Tuhan melakukan hal tersebut. Yang jelas kita hanya bisa melaksanakan apa yang sesuai dengan yang kita yakini tanpa memfonis atau masuk kewilayahnya Tuhan. Kita dibekali akal untuk berfikir 'Iqrho selain dari pada itu kita dibekali kitab Suci, dan Al-Quran hanya akan menjadi coretan pena biasa jika kita tak mampu untuk memanfaatkannya dan mengkaji setiap kata-kata yang ada didalamnya sebagai pedoman yang Tuhan hadiahkan untuk kita...
4 Maret 2013..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar