Tak banyak cerita belakangan ini. Nasib masih sama. Menjadi mahasiswa itu nyesek. Mungkin ini yang dinamakan titik jenuh. Dimana tidak mampu lagi manampung daya osmosis yang tersuplai dari luar.
Sejak September dua ribu tujuh sampai saat ini. Status mahasiswa masih bertengger di pundak. Hari tetap sama, senin kembali lagi kesenin, tanggalan dikalender pun tak banyak berubah, bulan februari tak akan pernah sanggup untuk mencapai hari ke tigapuluh.
Sudah hampir enam tahun melewati masa-masa 'kuli'ah. Ini adalah titik dimana kapabilitas di pertaruhkan. Terkadang gelar akademik membuat kita sedikit mampu menyombongkan diri ditengah masyarakat, namun yang menyakitkan, saat gelar itu menjadi bumerang buat hidup.
Saya masih terus berjalan, terkadang duduk untuk istirahat, menikmati terik yang memuaiakan angan-angan dan mengingatkan realitas. Menikmati malam, yang selalu mengabarkan tentang adanya kematian. Mati itu pasti. Tapi memilih jalan kematian itu yang berbeda.
Saya tak tahu, akan dikenang sebagai apa nantinya ketika saya mati. Yang Nikmat adalah ketika kita lahir disambut tawa, dan mati menyisahkan tangis. Yang membuat Nyesek itu sebaliknya, jika kebanyakan orang justru bersyukur kita telah tiada.
Ya..kita tinggal memilh prototipe apa yang kita inginkan nanti ketika kita mati. Belakangan saya sangat senang dengan gelap. Saat gelap saya serasa dekat. Entah dekat dengan siapa?. Tapi keyakinan ku, mengiyakan tentang adanya Zat yang sangat dekat.
Terkadang gelap mengandung kebisuan. Gelap itu tak punya mata, hingga kita merasakan hanya ada kita sendri yang berpijak. Tenang,Damai, Tentram, semua itu disuguhkan oleh gelap. Saat-saat seperti itu yang mahal dari sebuah kehidupan , tapi entahlah, apakah kebanyakan dari mereka juga menyukai gelap?
Berbicara tentang masa depan. Semua terasa abu-abu. Menghabiskan hari ini saja, saya bersyukur. Banyak yang saya inginkan dimuka bumi ini. Tapi apakah semua keinginan, itu compatibel dengan desain hidup kita. Kita dikasihkan dimensi berimajinasi, dan instrumen fisik untuk mengaktualisasi, tapi masalah pencapaian, nilai, serta prestisiusnya itu tak bisa diukur dengan angka statistik sekalipun. Ini masalh kualitas, bukan kuantitas.
Yang paling menyenangkan saat melihat seorang tersenyum terhadap kita, kehadiran kita dinanti, dan kepergian kita dirindu. Ini bukan tentang, 'mau jadi apa kita esok hari?, tapi tentang mau sepertia apa kondisi kita dikenang stelah kita mati?....
28 Maret 2013, Yogyakarta, dikos lantai tiga
coba mati dulu baru di bangunkan seperti onani. setelah sperm keluar baru terasa nikmatnya dan menyadari tuhan menciptakan qt. teruslah berjuang seperti sperma... 1 yg unggul itulah qt.
BalasHapusTerlalu tinggi perumpamaan nya kaka ucu, sulitka cerna.. :p
BalasHapus